Wedges , Batik dan Pustakawan

Foto: Raisa dan Shane Filan (Mantan Personel Wistlife) membuka konser mini Shane Filan di Hard Rock Cafe Jakarta. Shane begitu menarik perhatian dengan kemeja batiknya. Sedangkan Raisa dengan anggunnya menyanyi dan mampu menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.Batik dan pustakwan

Mari kita lirik si cantik Raisa dahulu, guys. Tampil dengan wedges nya, dia begitu cantik. (Maaf ya saya potong bagian bawahnya, hehe supaya anda lebih fokus pada pembahasan, bukan pada fotonya) [sesekali lihat boleh kok]. Dengan wedges pada sepatu akan memperbaiki penampilan dan juga menambah kepercayaan diri. Itu tidak dipungkiri lagi.

Penulis mengajak pembaca untuk mengingat pernah melihat pustakawan atau pegawai perpustakaan yang memakai wedges tidak? Ada yang pernah melihat memakai wedges dan ada juga yang tidak memakai nya atau hanya dengan sepatu trepes / flat (datar) saja.

Bayangkan seandainya pustakawan perpustakaan yang terutama bagian front line adalah pustakawan seperti Raisa atau Shane Filan (Shane tidak pakai wedges lho), tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi perpustakaan tersebut.

wedges bukan hal mutlak untuk mempercantik diri bagi seorang wanita, namun sebagai penunjang seorang wanita yang memakainya akan memiliki cara berjalan yang berbeda. Lebih anggun pastinya. “Siapa sih yang tidak indah melihat seorang wanita berpenampilan dengan wedges, Guys?”.

Ena Vadaq seorang pebisnis dan sosialita Yogyakarta mengungkapkan bahwa salah satu property untuk tampil anggun, rapi, elegan dan feminin adalah dengan menggunakan high heels atau wedges (Jawapos 3 Okt 2013).

Bagi pustakawan perempuan, tidak salah mencoba untuk menunjang penampilannya dengan wedges tersebut. Terutama bagi yang berusia tergolong muda, akan sangat diharapkan berpenampilan cantik. Nha, bagi fresh graduate yang tidak pernah pakai high, bisa dicoba nih. Jangan hanya sewaktu menghadiri wisuda saja. Tidak salahnya mencoba berpenampilan rapi dan anggun dengan wedges.

Dalam materi “Carier Coaching” yang pernah penulis dan mungkin pembaca ikuti, sebagai seorang wanita pencari kerja akan diberi penjelasan bagaimana berpenampilan dan berjalan baik dalam menemui pewawancara maupun ketika bekerja kelak. Wedges menjadi pelengkap yang diharapkan pencari kerja memakainya. Pewawancara akan menilai pertama kali seseorang peserta wawancara melalui pandangan pertamanya yaitu penampilan peserta tersebut. maka dengan pustakawan berpenampilan menarik, pemustaka atau kolega akan lebih tertarik untuk melanjutkan percakapan sampai kebutuhan informasinya terpenuhi.

Banyak manfaat tentunya memakai wedges. Namun perlu mengantisipasi dampak negatif dari penggunaan wedges tersebut.

Namun sebelum masuk ke dampaknya, penulis mengajak untuk melirik si Shane Filan dulu. (Kasian kalau dianggurin, hehe).
Shane berpenampilan berkemeja batik ketika manggung di Indonesia. Inilah salah satu cara menarik perhatian publik atau penonton untuk tetap fokus memperhatikan penampilannya di panggung. Apalagi jadwal manggungnya bertepatan dengan hari Batik Nasional kita (2 Okt).

Penampilan Shane perlu dicontoh bagi pustakawan. Apa saja itu?

Pertama, berani berpenampilan berbeda namun tetap menarik. Menggunakan batik adalah hal yang berbeda bagi Shane. Bagi pustakawan harus mampu menemukan tampilan berbeda disetiap harinya agar pemustaka tidak bosan dan tertarik berinteraksi dengan pustakawan. Batik sudah menjadi makanan pokok harian bangsa kita. Pustakawan bisa menggunakan bermacam motif batik yang kaya jenisnya di Indonesia. Semakin banyak motif batik, semakin menarik tentunya. Apalagi setiap batik itu memiliki nama dan makna. Penulis yakin banyak pembaca yang tidak paham nama dan makna dari batik yang mereka pakai. Dengan mengenalnya, pustakawan dapat memerkan batik yang mereka pakai kepada sesama pustakawan dan tentunya kepada pemustaka.

Pustakawan akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru dan tidak akan hilang namun malah bertambah. Kenapa? Karena pustakawan dituntut oleh penulis (maaf maksa, hehe) untuk pamer kepada Pemustaka bertujuan membagi ilmu tentang ke-batik-an kepada semua yang hadir di perpustakaan.

Dengan berbagi ilmu, akan semakin bertambah ilmunya, bukan berkurang ilmunya. Betul nggak, Guys?

Pemustaka akan merasa diperhatikan sebagai tamu di perpustakaan tersebut. Apalagi informasi nama dan makna batik itu ditampilkan di layar monitor yang ada di perpustakaan atau di tempel di mading.

Nha, setelah pustakawan mencoba ide pertama ini, mari lihat ide kedua yaitu ‘moment’ bahwa pustakawan harus jeli melihat moment. contohnya di Hari Batik Nasional (kemaren). Pustakawan wajib memakai batik adalah contohnya. Bagaimana dengan moment seperti hari satwa esok hari (jumat 4 Okt) ? Memakai pakaian hewan atau kostum hewan seperti Shaun the Ship. Kebetulan pertengahan bulan ini ada hari besar kurban. Bisa kan itu dimanfaatkan momentnya. Atau ketika timnas menang. Pustakawan memakai kaos atau kemeja timnas adalah ide kreatif selanjutnya, dan masih banyak lainnya. So, jangan sampai ketinggalan momentnya, Guys.

Setelah banyak kreatif, jangan lupa pesan yang disampaikan Shane pasca bubarnya westlife, Shane mengatakan “saya ingin bernyanyi selama mungkin”.

Nha pustakawan juga harus bernyanyi, bernyanyi menyuarakan literasi bagi masyarakat Indonesia. bernyanyi menghidupkan moment-moment untuk menarik perhatian masyarakat datang dan menggunakan layanan perpustakaan.

Begitu ide-ide yang bisa penulis tularkan dengan seadanya.

Kembali kepada dampak negatifnya high heels atau wedges bagi perempuan (Jawapos 3 Okt halm 17).

Kinerja menjadi lebih pelan karena tidak dianjurkan untuk berlari ketika memakai wedges. Menyeimbangakan dan menyelaraskan tubuh akan membuat dampak pada postur, betis, lutut, tendo achilles, tumit, tulang kaki dan hammertoes.

Pemakaian jangka panjang akan memunculkan nyeri parah di tungkai dan tulang belakang sehingga postur tubuh akan berubah. Otot betis yang sering kontraksi memendek dan kaku akan ada nyeri di kaki, lutut dan tulang belakang. Lutut akan terasa nyeri sehingga memicu radang sendi. Tendon achilles beresiko terjadi peregangan dan radang tendon. letak otot ini ada di bawah betis.

Terkadang terkilir pada pergelangan kaki sampai sampai patah tulang pun bisa menjadi ancaman. Pada tumit bisa terjadi benjolan di bagian belakang tumit karena iritasi berkepanjangan. Tulang kaki pada jari kaki akan memicu metatarsalgia yang ditandai dengan nyeri. Dan Hammertoes yaitu membuat posisi jari kaki yang mirip memeras saat mengenakan high heels akan berdampak jari keriting.

Selain dampak, penulis akan memberikan solusi untuk mengurangi dampak tersebut.

Usahakan tinggi maksimal adalah 2 inchi. Penggunaannya tidak lebih dari 40 jam dalam seminggu. Dokter Totok M dari alumnus FK Unair menyarakan untuk memilih ujung sepatu yang terbuka. Sering lakukan pemijatan rinfan pada betis dan telapak kaki pada saat jam istirahat.

Sedangkan menurut Ena, menggunakan plester khusus yang sewarna dengan kulit untuk ditempelkan di bagian tumit atau ujung luar kaki yang bersentuhan langsung dengan tepian sepatu adalah solusi pertama untuk sepatu high heels atau wedges yang masih baru. Selama perjalanan menuju peprustakaan atau kantor hendaklah memakai sandal atau sepatu trepes / flat (datar) terlebih dahulu. Mengoleskan minyak zaitun dan memijat mijat sewaktu sudah sampai rumah kembali adalah trik terakhir setelah kaki dicuci. Sesekali naikkan kaki ke atas, sementara posisi badan tiduran.

Sekian tulisan penulis yang semoga mampu memupuk ide kreatif lainnya.

MAU DIBAWA KEMANA MEREKA (Mahasiswa Perpustakaan calon Pustakawan)?

[lanjutan] #2. Sedikit coretan untuk wisudawan maupun dosen dan mahasiswa yang masih aktif.

MAU DIBAWA KEMANA MEREKA?

Kemudian, mau dibawa kemana lulusan generasi muda ini berkarier di luar gedung perpustakaan?

Foto: Penulis ditemani adiknya (kok lebih tinggian adeknya ya. haha)

wisudaPenulis mengambil contoh salah satu kabupaten di kampung halaman tercinta yaitu Kabupaten Sukoharjo, selatan Solo (Surakarta) tepatnya. Mohon maaf apabila terlalu subyektif, namun ini demi akurasi pengalaman semata.

Pada akhir tahun 2012, jumlah mahasiswa perpustakaan yang berasal dari Kabupaten yang memiliki batas sebelah barat adalah Kabupaten Klaten ini memiliki minat kuliah di jurusan perpustakaan yang lumayan banyak. Universitas negeri terbesar di jawa tengah menyumbang pasukan literasi paling besar dari kabupaten yang hanya menjadi lalu lalang mobil mewah dan bus ‘dari-dan’ arah Kabupaten Wonogiri dan Yogyakarta serta Solo ini. Kemudian Universitas negeri di kota Kecil Solo dan Universitas Negeri Islam di Yogyakarta melengkapi sudah rute JogloSemar menambah pundi-pundi pejuang kepustakawanan di Kabupaten berpenduduk 851ribu pada tahun 2011 ini (sukoharjokab.go.id). Belum lagi 20an universitas di Indonesia yang menggelar jurusan / program studi yang sama. Universitas negeri dan swasta di Malang, Surabaya, Jakarta dan Bandung misalnya, bertambahlah kekuatan basis massa pejuang informasi ini baik yang di era “Gimana Bro, Masih enak jamanku tho?”, sampai era percaturan bidak hitam putih pertengahan 2014 kelak. Ditambah pula, yang tidak ketinggalan adalah mahasiswa Universitas Terbuka baik S1 maupun D2 menghadirkan angin segar bagi kita semua.

Beberapa dari mereka (pejuang dari Sukoharjo ini) telah sukses meniti karier di bidang pilihannya masing-masing, adapula yang sedang merangkak naik dan adapula yang masing menanti buah mangga jatuh pada musim mangga yang akan tiba.

Pembangunan proyek besar-besaran di kota maupun daerah menunjukkan kemajuan ekonomi masyarakat Sukoharjo. Car Free Day, Hartono Mall, The Park, Taman Proliman (eks Rumah Lowo), Pasar Soekarno, pasar Bekonang-Nguter-Tawangsari, Waduk Mulur dll. Tentunya ini menjadi harapan segar untuk pustakawan muda menciptakan lokasi-lokasi strategis. Hanya saja, apakah kesempatan ini akan hilang begitu saja karena ketidakjelian memanfaatkan perkembangan yang ada. Mungkin ide-ide kreatif perlu dipercikkan untuk menciptakan ide lain yang lebih kreatif dan inovatif.

Bagi daerah lain bisa memperhitungkan sendiri kisaran jumlah pejuangnya dan perkembangan di daerahnya masing-masing. Bersama generasi tua, marilah bersatu membangun kecerdasan bangsa. Akan ada banyak perjuangan di dunia kepustakawanan yang pernah dilakukan oleh beberapa daerah yang beraneka ragam macamnya. Di kota Ende (NTT), tempat dahulu Bung KArno pernah dibuang disini menjadi contoh pertama. “tidak habis fikir, bagaimana kota “pembuangan” sejauh ini bisa memiliki sekolah dengan lulusan yang melahirkan impact besar”, tutur Rhenald Kasali dalam Artikelnya Syuradikara pada Surat Kabar Jawa Pos Oktober 2013. Tokoh-tokoh masyarakat yang namanya biasa kita lihat di media massa seperti pimpinan perusahaan asing, profesional keuangan, aktivis sosial , pendidik terkemuka, wartawan, seniman, pengusaha dan pastor lahir dari sekolah Syuradikara yang memiliki arti Pencipta Pahlawan Utama ini. Berharap dari Kabupaten Sukoharjo, tentunya kelak akan memberi contoh yang sama dari kota kecil Ende ini. Alumnus-alumnus sekolah Syuradikara berbondong-bondong pulang kampung membuka sepotong jendela, memasukkan udara segar agar penerus mereka bisa melihat dunia baru yang benar-benar berubah. Andaikan alumnus dari Kabupaten Sukoharjo bergerak untuk sharing pengalaman dan ilmu masing-masing setiap minggu dalam setahun saja, sudah pasti perubahan akan menjadi kenyataan.

Contoh kedua adalah bergerak di dunia Taman Baca seperti yang dilakukan mahasiswa UI dengan menyelenggarakan Sanggar Kreatif Rumah Kembang di Bekasi. Anak-anak didik mereka adalah anak-anak pemulung yang putus sekolah pasca SMP. Akhirnya empat dari anak didiknya bisa melanjutkan sampai ke jenjang sekolah tinggi di Bekasi. Lima aktivis yang tergabung ini tidak ada yang berasal dari jurusan ilmu perpustakaan namun ide-idenya sangat luar biasa seperti mengajari anak-anak dengan games “pohon mimpi”. setiap anak diminta menuliskan cita-citanya di kertas. Minggu berikutnya games dilanjutkan dengan meminta anak-anak mewujudkan impiannya tersebut. Misalnya, ada anak yang bercita-cita menjadi guru. Pada pertemuan berikutnya anak-anak itu diminta menjadi guru sungguhan dan harus menerangkan sesuatu kepada teman-temannya di depan kelas.

Di Solo pun juga ada, Mahasiswa Psikikologi UNS, Anis Diah A M mengurus Rumah Hebat Indonesia di daerah Ngemplak yang tidak jauh dari Terminal Tirtonadi. Ada banyak ide kreatif disini seperti belajar musik perkusi, belajar bahasa inggris, menari, teater dan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, anak-anak diminta membacakan bunyi pancasila lalu mencontohkan kegiatannya apa sebelum memulai pembelajaran dan mengakhiri pembelajaran dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Seorang lulusan Ilmu Perpustakaan UI, Dini Wikartaatmadja membentuk Kelas Inspirasi dengan memberi pelatihan menulis kepada anak-anak supaya mampu menulis buku. Mungkin meniru seperti John Tondowidjojo Tondodiningrat, cucu Kartini, yang sekarang berusia 80 tahun ini telah memiliki 90an judul buku karyanya sendiri. Laki-laki tua yang pawakannya seperti Pramoedya Ananta Toer ini menggunakan mesin ketik tua untuk menulis semua karyanya.

Wartawan dan Fotografer adalah contoh berikutnya, setiap aksi literasi masyarakat yang sering dilakukan oleh Bapak Mayor Haristanto misalnya. Laki-laki yang berdomisili di Kota Kecil Solo ini selalu ditemani wartawan dan fotografer disetiap kegiatannya memahamkan masyarakat kepada apa yang sedang terjadi dan berharap dengan segala aksinya akan merubah keadaan. Tak terkenal memang, namun sosok kalem nan humoris yang pernah menjadi presiden pasoepati dan eksis di Kick Andi ini mampu melakukannya demi kota tercintanya.

Wartawan dan fotografer selalu berburu informasi terbaru dan dikemas lebih detail sehingga profesi ini menuntut kualitas tulisan dan berita yang selalu dituntut untuk belajar dan belajar.

Selanjutnya, taukah kamu akan ada Kapal Perpustakaan di selat sunda. Sebagian banyak orang pasti belum mengetahui ini. Komunitas Sahabat Pulau yang berkegiatan di pulau Pahawang, Lampung, yang memiliki cita-cita tersebut. Hendriyadi, salah seorang pelopor ini menjelaskan bahwa 25 Maret 2012 adalah tanggal terbentuknya komunitas ini. Namun usia muda tidak menyurutkan prestasi, menjadi Finalis Alumni Engagement Innovation Fund 2012 di AS adalah salah satunya.

Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang menciptakan ide untuk bangsa kita ini. Tidak perlu takud akan kegagalan, berlandaskan ‘cinta’ akan membawamu kepada tujuan mu. Mari mulai dari yang kecil dahulu disekitar kita. Tanamkan ‘cinta’ perpustakaan, ‘cinta’ anak, ‘cinta’ buku, dan cinta-cinta lainnya di dalam diri kita.

Dengan ‘cinta’ akan membawa kita dalam sinergi yang tak terputus mencapai cita-cita.

Salam, Dicki Agus Nugroho Alwayslovekudalaut
Creative Librarian of YPPI

PILIHAN atau TEKANAN oleh Pustakawan

[lanjutan] #2. Sedikit coretan untuk wisudawan maupun dosen dan mahasiswa yang masih aktif.

PILIHAN atau TEKANAN

Salah satu lulusan berkarier di dunia kepustakawanan bagi lulusan ilmu perpustakaan & / informasi seperti lebah madu yang keluar dari sarangnya mencari sari-sari bunga.

Pasca kelulusan mereka (wisudawan tersebut), berbondong-bondong mencari lowongan kerja di dunia kepustakawan adalah rutinitas setiap periode wisuda. Beruntunglah ketika bertepatan pada jadwal Pegawai Negeri Sipil. Bersyukur pasti terucap dalam hati maupun lisan dari wisudwan maupun orangtua mereka. Kalaupun tidak, perpustakaan di sekolah, universitas dan dosen tetap menjadi populer bagi lulusan ilmu perpustakaan. Tak dipungkiri juga, lulusan tersebut belok atau memutar haluan menekuni di bidang lain non kepustakawanan / informasi / literasi yang mungkin lebih diminatinya.

“Tujuan kuliah adalah berpenghasilan yang cukup untuk hidupnya kelak”, kata seorang laki-laki tua kisaran 40-50 tahun yang penulis tidak sengaja bertemu beliau duduk berhadapan di salah satu gerbong kereta Sri Tanjung tujuan St.Gubeng Surabaya.

Mari kita gabungkan kedua paragraf di atas. Para lulusan jurusan ilmu perpustakaan apakah memiliki tujuan yang sama seperti yang diungkapkan bapak tersebut? Setidaknya tujuan itu tidak sepenuhnya salah. Benar malah. Akankah tujuan tersebut mengkotakkan (baca: menyempitkan) maksud dunia kepustakawanan yang akan menjadi bidang kariernya kelak?

Dunia kepustakawanan itu sangat luas. Seperti yang diungkapkan Direktur YPPI (Dibaca: Yepi), Trini Haryanti menuliskan dalam status FB nya pada 28 Sept 2013, “alumni Jurusan Perpustakaan diharapkan memahami bahwa dunia kepustakawanan sangat luas untuk menentukan pilihan”. Pilihan berkarier di luar gedung perpustakaan adalah salah satunya.

Sama halnya ibu Harkrisyati Kamil dalam catatan di FBnya pada awal tahun 2009 tentang 15 Pokok perhatian yang perlu segera mendapat perhatian bersama dalam Tantangan dan permasalahan Kepustakawanan Indonesia. Salah satunya adalah penyelenggara pendidikan kehilangan orientasi ilmu dan terpaku pada pengajaran hal-hal teknis. Ini ikut menyumbang pada kesalahpahaman di masyarakat tentang profesi pustakawan. Beliau menambahkan bahwa ‘penguasaan ilmu perpustakaan & informasi merupakan lawan dari penguasaan ilmu teknis semata’.

Sehingga pustakawan harus pandai dan cerdas memanfaatkan apa yang ada disekitarnya untuk dapat membantu masyarakat memanfaatkan teknologi informasi bagi kepentingan masyarakat. Bukan menunggu mereka datang kepada kita.

Maka dari itu, ide kreatif pustawakan di era sekaranglah yang menjadi tuntutan bersama kita semua. Era pustakawan tua berkacamata tebal dan terlihat garang janganlah digubrik atau diolok-olok, sebagai generasi muda tentunya bercanda ria dan bersahaja dengan pustakawan tersebut adalah langkah yang tepat. Mereka memiliki segudang pengalaman yang wajib ditularkan kepada generasi muda. Sebagai generasi muda yang memiliki ide kreatif tentunya menjadi penggerak dilapangan tanpa pamrih dan tak takut terik matahari. Saling merangkul menciptakan satu kekuatan besar adalah hal yang mutlak dilakukan. Gerakan sporadis hanyalah gerakan yang sudah pasti mudah ditebak akan terbenam sebelum waktunya.

gambasDiibaratkan buah ‘Gambas’ adalah pustakawan, buah Gambas yang muda pasti banyak dicari sebagai buah dan sayur yang berwarna hijau mencolok kaya vitamin. Ternyata, spons dan biji Gambas yang tua memiliki manfaat yang amat banyak. Sponsnya merupakan pembersih badan maupun cucian didapur yang belakangan ini semakin populer. Di Amerika, biji yang volumenya besar, menghasilkan lemak nabagi dan bisa dijadikan minyak goreng. Begitu banyak manfaat kedua gambas muda dan tua ini. Bayangkan ketika gambas muda dan gambas tua dimanfaat bersama dalam satu lingkup, pastinya sangat bermanfaat sekali di lingkungan tersebut.

Salam, DIckI Agus Nugroho,

Margaretha Astaman Menjawab lulusan mahasiswa

Sedikit coretan untuk wisudawan maupun dosen dan mahasiswa yang masih aktif.

Margaretha Astaman Menjawab.

Gambar

Wisuda adalah moment membahagiakan bagi wisudawan maupun orangtuanya. Hati berdebar dan penuh raut wajah ceria menyelimuti di hari istimewa tersebut. Memasuki prosesi upacara yang sakral dan berjabat tangan dengan rektor ataupun dekan adalah hal yang dinanti sekian banyak peserta upacara. Janji wisuda dan pidato menambah sakralnya rangkaian acaranya.

Pasca berakhirnya prosesi upacara, map ijazah bertuliskan gelar dan toga serta samir yang menyesuaikan warna fakultasnya menjadi atribut wajib yang tidak dilepas saat berfoto ria mengabadikan momen sekali dalam perjalanan study yang dilaluinya beberapa tahun sebelumnnya. Rangkaian bunga dan banner bertuliskan ‘selamat menempuh karier baru ya Kakak’ menambah warna di setiap gambar yang diambil.

Orangtua beradu gembira dengan khawatir melihat puta putrinya mampu menempuh jenjang yang diharapkan. Esok adalah hari baru bagi anak mereka. Momen bahagia terasa begitu cepat berlalu pasca tuntasnya administrasi toga, ijazah, legalisir dan lainnya di kampus tercinta. Bagaimana tidak, tuntutan menghantui sebagian lulusan. Harus ini dan harus itu dan harus terealisasikan. Dan bila tidak terealisasikan, menyandang label ‘gagal’ pastinya menjadi tekanan tersendiri.

Namun sebagian lulusan malah memilih jalan seperti Penulis Buku Fresh Graduate Boss yaitu Margaretha Astaman yang menghabiskan berbulan-bulan pasca kelulusannya dengan bermalas-malasan. Tujuannya sampai menemukan titik jenuh kebosanan bermalas-malasan sehingga ketika sudah jenuh dengan namanya ‘malas’, lalu terjun ke dunia kerja akan menghindari ‘malas’ karena sudah tahu dan sudah ‘pernah’ menjadi orang pemalas sedunia. Semangat dan kerja keras akan saling berkejar-kejaran tanpa mengenal rasa malas. Sungguh hebat dan rekomendasi yang cocok bagi anda yang ingin mengetahui kisahnya.

Salam, Dicki Kudalumping, bukan Kudalaut, jangan kebalik ya. Trims ^^

Buku di Jumat Keramat

Buku di Jumat Keramat

andiSiapa tidak kenal Andi Mallarangeng. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini ditetapkan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai tersangka sejak 6 Desember 2012. Atas dugaan melakukan penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara dalam pengadaan sarana dan prasarana olahraga Hambalang. Perbuatan itu diduga dilakukan Andi bersama Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora Deddy Kusdinar, serta mantan petinggi PT Adhi Karya, Teuku Bagus Muhammad Noor (Nasional Kompas, 7 Okt). Dan menurut perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan, nilai kerugian negara yang muncul dari proyek ini sekitar Rp 463,6 miliar.

Hal senada diperkuat oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, memastikan dan berjanji akan menahan pemilik nama lengkap Andi Alifian Mallarangeng, tersangka kasus Hambalang. “Kalau memenuhi panggilan penyidik pasti kami tahan,” kata Abraham usai menjadi keynote speaker pada Dialog Publik Korupsi yang digelar Komite Pemantau Legislatif Indonesia di Makassar, Selasa, 8 Oktober 2013. (Tempo, 8 Okt)

Akhirnya, tibalah hari Jumat (11 Oktober) pukul 10.00 WIB Andi datang ke KPK untuk diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek Hambalang. Dengan mengenakan batik biru, andi berjalan dengan tegap dan percaya diri memasuki gedung KPK. 7 (Tujuh) jam lamanya Andi berada di dalam gedung. Namun apa yang terjadi, janji Abraham tidak terbukti. Andi tidak jadi ditahan dan lolos dari jumat keramat tersebut.

Sebelum memasuki gedung KPK, Andi berkata “Koper sudah saya siapkan, ada tuh di dalam mobil”. Ada apa gerangan yang ada di dalam koper misterius tersebut. Penulis mencoba bertanya melalui lewat SMS kepada Andi, namun karena belum memiliki nomor HP beliau. Penulis mengurungkan cara tersebut. Ternyata oh ternyata, penelusuran penulis berhasil dengan cara lain sehingga bisa mengetahui isi koper tersebut. Koper itu berisi tumpukan buku – buku kesayangannya yang sudah disiapkan sebelum hari kamis (10 Okt) kemarin. “Saya sudah menyiapkan ‘teman’ untuk mengusir kebosanan jika memang penyidik benar-benar menahan saya” tutur Andi.

Aneh bukan?, untuk memenuhi penahanannya, Pria keren berkumis ini malah mempersiapkan setumpuk buku kesayangannya untuk dibaca didalam tahanan nantinya. Lantas apa hubungan penahanan dengan buku ?

Menurut informasi dari Jawa Pos, Andi sudah pasrah dengan penahanan itu. Dia bahkan sudah menyiapkan “teman” untuk mengusir kebosanan saat ditahan. Siapakah “teman” misterius itu? Menurut Harry Ponto, Kuasa hukum Andi, Kliennya sudah siap. Salah satunya dengan menyiapkan setumpuk buku kesayangannya untuk dibawa dan dibaca di tahanan. Ternyata Andi yang memiliki hobby olahraga dan sepak bola ini sengaja memilih buku sebagai “teman” karena selama ini dia gemar membaca. (JawaPos 10 Okt)

Apakah ini sebuah keajaiban Andi berkat buku-buku yang dibawanya ke gedung KPK? Mungkin akhir pekan ini adalah keajaiban bagi seorang Andi seperti keajaiban yang dialami punggawa Garuda Jaya (Indonesia U-19) yang berhasil menekuk juara bertahan sekaligus juara 12 kali Piala Asia (AFC) U-19 (Korea Selatan) dengan skor 3-2. Ajaib bin ajaib.

Buku di Penjara

Namun apabila Andi benar-benar ditahan, Andi mungkin menjadi tersangka dugaan kasus korupsi pertama yang lebih memilih mempersiapkan buku dari pada nyogok sana nyogok sini. Penulis buka ingin Andi masuk penjara beneran dan buka membela Andi maupun memojokkannya dengan kata sogokan diatas. Alangkah baiknya kita cermati tuturan Andi yang mengadung nilai bahwa “buku itu bisa menjadi teman siapa saja dalam situasi, status dan kondisi apapun”. Termasuk di dalam penjara pun.

Penjara itu sendiri memiliki pengertian yaitu tempat dimana orang-orang dikurung dan dibatasi berbagai macam kebebasan. Saatnya bikin beda bagi para tahanan. Selayaknya masyarakat lainnya yang memiliki kebebasan seperti kebebasan mendapatkan “teman” baru yang mampu mendidik para tahanan menjadi masyarakat yang berkepribadian lebih baik pasca keluar dari Lapas. Karena para tahanan itu bukan dikarena kepribadiannya yang tidak baik sehingga masuk penjara, namun dikarenakan kelakuannya. Maka dari itu, penulis menghimbau kepada pemerintah wajib melakukan pembinaan dengan menyediakan bahan bacaan di Lapas untuk mendukung pembinaan kepribadian tersebut.

Kesempatan mendapatkan pendidikan dan menikmati pelayanan umum seperti membaca buku dirasa sangat tidak seimbang bagi para tahanan. Padahal mereka seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk memanfaatkan fasilitas membaca layaknya perpustakaan. Apakah HAK mereka terampas oleh jeruji besi yang mengurungnya?

Penulis kira TIDAK, ada banyak contoh Lapas yang telah memberikan HAK mereka dengan menyediakan perpustakaan untuk dimanfaatkan para tahanan memperbaiki kepribadiannya.

Pertama, Penjara Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Surabaya di Sidoarjo, misalnya. Penjara ini memiliki perpustakaan yang bisa dimanfaat para tahanan untuk membaca buku.

Menyeberang ke pulau Kalimantan, Penjara Polres Bontang memiliki perpustakaan khusus untuk para tahanan. Tujuan diadakan perpustakaan supaya tahanan yang menjalani proses hokum dalam sel tetap bisa mengasah otaknya dan menambah wawasan dengan membaca buku-buku yang disiapkan perpustakaan. “Sudah selayaknya para tahanan mendapatkan perhatian dan pembinaan melalui membaca buku. Bukan hanya dilengkapi keterampilan, tetapi wawasan tahanan itu juga harus terus ditambah, jelas Wakapolres Bontang Kompol I Nyoman Mertha Dana. (Sapos.com, mei 2013).

Sementara itu Pemerintah Kamboja sebagai sama-sama anggota ASEAN dengan
Indonesia memberi contoh bahwa akan diadakan perpustakaan disetiap penjara. Perpustakaan ini dibangun untuk memberikan pendidikan kepada para tahanan. Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengatakan, 26 penjara di Kamboja akan memiliki perpustakaan. “Meski mereka tahanan, mereka juga berkesempatan untuk tetap belajar dan membaca,” seperti dilansir situs asiacalling.kbrh68.com, Sabtu (13/10). Kedapannya, buku akan menjadi “teman” bagi para tahanan karena akan dibuatkan program tahanan suka membaca dan meminjam buku. (merdeka.com, 14 okt 2012)

Kepada mahasiswa perpustakaan, inilah kesempatan bagi Anda dan penulis untuk membuka wawasan dunia kepustakawanan lebih luas lagi, perpustakaan bukan hanya perpustakaan Umum, Khusus, Perguruan Tinggi, Sekolah dan Nasional. Mari kita gali lagi dari kelima perpustakaan tersebut, seperti perpustakaan khusus ternyata memiliki banyak perpustakaan yang bisa di GARAP.

“Apa yang ada dimimpimu, lakukanlah segera!”

Salam, Dicki, Creative Librarian

Security System in Library: Security Gate

Abad ke-21 merupakan era transformasi teknologi canggih. Teknologi berkembang dengan cepat yang terlihat nyata pada peranan internet. Semua perangkat serba elektronik atau digital seperti dokumen elektronik, journal elektronik, dll. Ada pula perpustakaan elektronik atau digital.

Perpustakaan elektonik atau digital menurut Arms (2000) dalam Seminar Nasional Ilmu Perpustakaan Undip di Semarang tanggal 5 Mei 2011 oleh Sulistyo-Basuki, memberikan definisi sebagai berikut:

A managed collection of information, with associated services where the information is storied in digital formats and accesible over a network. A crucial part of thif definition is that the information is managed.

Sedangkan menurut Digital Library Federation dari AS bahwa

“Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual acces to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are reaily and economically available for use by a defined community or set of communities.” (Greenstein, 2000) (Sulistyo-Basuki, 2011)

Perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital. (Supriyanto, 2008:31).

Perpustakaan sekarang dan yang kita pergunakan telah banyak mengalami perkembangan. Salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi sehingga terjadi transformasi perpustakaan menjadi perpustakaan digital atau elektronik.

Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksaan ilmu, sinonim dengan ilmu terapan. Definisi informasi terdapat perbedaan karena pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang diperoleh dari data dan dari observasi terhadap dunia sekitar kita serta meneruskannya melalui komunikasi, (Sulistyo-basuki, 1991: 87).

Seperti yang dikatakan Wahyu Supriyanto dan Ahmad Muhsin, “Kemajuan Perpustakaan banyak diukur dengan penggunaan teknologi informasi yang diterapkan”, (Supriyanto, 2008: 14).

Menurut Ikhwan Arif, 2003:2,3 dalam Makalah Seminar dan Workshop Sehari “Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan Otomasi Perpustakaan Menuju Masyarakat Berbasis Pengetahuan”, penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut:

Pertama, teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi managemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan yaitu pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik, dan sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk automasi perpustakaan.

Kedua, Teknologi informasi sebagi sarana untuk menyimpan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital. (Supriyanto, 2008: 33)

Perpustakaan yang berperan sebagai pengumpul, penyimpan, pengolahan dan pendistribusian informasi secara tidak langsung akan terpengaruh dengan teknologi seiring penggunaan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi mampu mendorong perpustakaan untuk mengembangkan pelayanannya.

Namun demikian, meskipun teknologi informasi mempunyai kelebihan seperti kecepatan dan akurasi akses, pada sisi lain ia juga mempunyai kelemahan seperti biaya yang diperlukan dan biaya perawatannya mahal disamping kita akan sangat tergantung pada teknologi tersebut. Teknologi memang terus maju, tapi media informasi dalam bentuk teks masih tetap banyak dimanfaatkan. Sebab, harganya relatif murah, tidak selalu tergantung pada teknologi informasi, dan mudah dipergunakan (atau dibaca di mana saja), (Suwarno, Wiji, 2007: 35).

Sirkulasi termasuk bidang pekerjaan yang akan diintregasikan dalam sistem informasi perpustakaan. Pelayanan sirkulasi merupakan layanan utama dalam kegiatan suatu perpustakaan yang lebih sering dikenal dengan layanan peminjaman buku. Peminjaman buku untuk dibawa pulang merupakan bagian utama jasa perpustakaan karena tidak semua pemustaka senang membaca buku di perpustakaan.

Mengingat perpustakaan merupakan penyedia jasa sudah barang tentu selalu dikunjungi oleh pengguna dari berbagai macam latar belakang. Termasuk sudah mempunyai keinginan dan niat masing-masing, yang besar kemungkinan berbeda. Ada yang mempunyai niat baik tapi juga ada yang jelek. Terjadinya pencurian koleksi di perpustakaan layaknya fenomena gunung es. Tiap waktu, jumlah buku hilang angkanya lebih besar, (Fatmawati, Endang, 2010: 54-55).

“Perpustakaan FIB Undip pernah kehilangan koleksi buku, skripsi dan buku langka karena kelalaian pustakawan mengawasi pemustaka ditambah dengan tidak adanya security gate” kata Tugirin, S.Hum selaku pustakawan Perpustakaan FIB Undip ketika diwawancarai. Perpustakaan SD Muhammadiyah 13 Semarang pernah kehilangan koleksi buku pula ketika penulis melakukan observasi. Begitu juga di perpustakaan SMA N 3 Sukoharjo yang sering kehilangan koleksi buku. “Di Perpustakaan ini sering terjadi kehilangan buku”, kata Retno Sariningsih, S.Pd. Maka dari itu perlu adanya pengaman koleksi buku untuk menekan angka jumlah buku yang hilang.

Teknologi informasi dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan. Melalui fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya, perpustakaan dapat meningkatkan keamanan dalam perpustakaan dari tangan-tangan jahil yang tidak asing sering terjadi dimanapun, (Surachman, Arif).

M. Solihin Arianto mengungkapkan bahwa guna mengantisipasi kehilangan koleksi perpustakaan sebagai akibat dikembangkannya sisyem layanan mandiri, perpustakaan menerapkan teknologi security system yang terintegrasi dengan program EAS (Electronic Article Surveillance) Gantry. Teknologi ini mampu mendeteksi secara random dari jarak satu meter untuk koleksi yang tidak dipinjam melalui prosedur yang semestinya, (Arianto, M. Solihin).

Wahid Nashihuddin menceritakan penerapan security gate di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam artikel Mesin Sirkulasi mandiri “Book Drop” bahwa di pintu keluar perpustakaan dipasangi perangkat keamanan elektronik yang dikenal dengan Security Gate. Security Gate menggunakan sistem Electronic Article Surveillance (EAS) Gantry, yaitu teknologi yang diterapkan di perpustakaan untuk pintu masuk pengunjung elektronik yang dapat mendeteksi dan menolak pengguna perpustakaan yang tidak terdaftar sebagai anggota perpustakaan. Dengan kata lain, kalau pengguna ingin meminjam koleksi/buku maka harus menjadi anggota perpustakaan, tentunya harus sesuai dengan prosedur dan persyaratan yang sudah ditentukan oleh perpustakaan.
Untuk sistem kerjanya, perangkat security elektronik ini mendeteksi secara otomatis dengan gelombang radio untuk setia buku yang dipinjam ke luar perpustakaan. Akan tetapi, jika buku yang dipinjam tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan (ada kesalahan teknis dari pengguna) maka alarm akan berbunyi, seperti halnya sistem keamanan yang ada di Supermarket/Mall. Selain itu, pintu ini juga dapat menunjukkan data statistik pengunjung secara otomatis berdasarkan kategori anggota perpustakaan, baik per hari, per minggu, maupun per tahun, (Nashihuddin, Wahid, 2011)

Perkembangan perangkat keamanan yang mampu menampilkan kemampuan semakin beragam dan efektif. Perangkat keamanan perpustakaan salah satunya adalah Security Gate. Selain di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Perpustakaan STAIN Salatiga juga menerapkanya. jika dahulu berkunjung ke perpustakaan harus melepas jaket dan dilarang membawa tas atau map, maka sejalan berkembangnya teknologi cctv, security gate, pemustaka tidak lagi dibebani dengan keharusan menanggalkan jaket dan tasnya. (http://stainsalatiga.ac.id)

Perkembangan perpustakaan yang menerapkan security gate membawa dampak pada pelayanan yang efektif yaitu sangat membantu kerja pustakawan dan proses sirkulasi peminjaman buku oleh pemustaka. Penerapan ini juga bersifat bersahabat dengan tidak harus melepas atribut pakaian seperti jaket dan tas, pemustaka akan merasa lebih nyaman dengan berkunjung ke perpustakaan tanpa aturan yang risih.

Situs penjualan security gate supermarket yaitu harrygs.com, menjelaskan program EAS yang digunakan dalam technologi security system dengan terjemahan sebagai berikut, EAS atau Electronic Article Surveillance System yang terdiri dari tiga komponen kunci. Komponen Pertama adalah sistem deteksi. Sistem deteksi adalah peralatan yang terletak di pintu masuk dan keluar toko yang memiliki alarm. Sistem deteksi memiliki banyak bentuk, yang paling sering digunakan adalah dua antena deteksi di kedua sisi pintu. Komponen kedua adalah komponen keamanan yang melekat pada item yang harus dilindungi dari pencuri. Ada berbagai jenis komponen keamanan yang dapat melekat pada item dengan berbagai metode.

Dua metode yang paling populer adalah yang (1)menempelkan paku payung seperti pin yang terhubung ke dalam alarm atau (2)menerapkan stik pada label pada label yang cocok untuk permukaan datar yang halus pada item. jenis ini disebut dengan komponen pengaman lunak. Komponen pengaman lunak ini hanya dapat dipakai selama beberapa dekade. Komponen pengaman ini kemudian dinetralkan dengan a hard tag detacher atau a soft tag deactivator.

A hard tag detacher adalah mesin penetralisir yang digunakan untuk menghapus pin dari komponen pengaman keras. Ada banyak jenis hard tag detachers  agar ada banyak pilihan dengan berbagai jenis komponen pengaman keras. A soft tag deactivator adalah mesin penetralisir yang digunakan untuk mematikan atau menonaktifkan komponen pengaman lunak. Dalam penjumlahan, pelanggan akan berjalan ke toko melalui sepasang antena keamanan. mereka akan membawa item ke kasir dimana pengaman tersebut akan dinetralisir oleh salah satu pengaman keras atau lembut. Sehingga pelanggan dapat meninggalkan toko tanpa terdeteksi alarm keamanan. (http://www.harrygs.com/)

Contoh Security gate:

 

 

 

 

 

 

Contoh Security gate Perpusnas RI:
 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Arianto, M. Solihin. 2007. “Program pengembangan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Menuju World Class University Library”. http://www.google.co.id/search?q=Arianto%2C+M.+Solihin.+2007.+%E2%80%9CProgram+pengembangan+Perpustakaan+UIN+Sunan+Kalijaga+Menuju+World+Class+University+Library%E2%80%9D.+&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a . (diunduh 19 Juni 2012 pukul 11.00 WIB)

Fatmawati, Endang, 2010. The Art of Library. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

http://stainsalatiga.ac.id, 2011. “Artikel Perpustakaan Itu Biasa, Tapi Luar Biasa”.  http://stainsalatiga.ac.id/?p=1156. (diunduh tanggal 19 Juni 2012 pukul 11.03 WIB)

http://www.harrygs.com/  (diunduh 19 Juni 2012 pukul 11.35 WIB)

Nashihuddin, Wahid, 2011. “Mesin Sirkulasi Mandiri “Book Drop”.” http://www.pdii.lipi.go.id/read/2011/08/08/mesin-sirkulasi-mandiri-%E2%80%9Cbook-drop%E2%80%9D.html . (diunduh 19 Juni 2012 pukul 10.44 WIB)

Surachman, Arif. Layanan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi (TI) Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknologi Informasi: Peningkatan Pemahaman dan Ketrampilan SPBI (Sistem Pembelajaran Berbasis Internet) bagi Staf Perpustakaan.” http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=%E2%80%9Clayanan%20perpustakaan%20berbasis%20teknologi%20informasi%20%28ti%29%20makalah%20disampaikan%20dalam%20pelatihan%20teknologi%20informasi%3A%20peningkatan%20pemahaman%20dan%20ketrampilan%20spbi%20%28sistem%20pembelajaran%20berbasis%20internet%29%20bagi%20staf%20perpustakaan.&source=web&cd=1&ved=0CDcQFjAA&url=http%3A%2F%2Farifs.staff.ugm.ac.id%2Fmypaper%2FLPBTI.doc&ei=ruvhT_CtDYX4rQey2JCtAw&usg=AFQjCNE7IRpwSHMyew7zEZi3GyBZbjcrlQ&cad=rja . (diunduh 19 Juni 2012 pukul 11.06 WIB)

Sulistyo-Basuki. 2011. “Perpustakaan Digital di Indonesia: sebuah pandangan.”.Makalah Seminar Nasional Ilmu Perpustakaan Undip di Semarang, 5 Mei 2011 FIB Undip.

Sulistyo-Basuki, 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

Supriyanto, Wahyu dan Ahmad Muhsin, 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Suwarno, Wiji, 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan; sebuah pendekatan praktis. Yogyakarta: Ar-Ruzz

Tacit, Explicit, Proses Transfer Pengetahuan, dan Contohnya

| DICKI AGUS NUGROHO | A2D009042 | KELAS B | ANGKATAN 2009 | | S1 ILMU PERPUSTAKAAN | FAKULTAS ILMU BUDAYA | | UNIVERSITAS DIPONEGORO | SEMARANG | TAHUN 2012 |

Tacit, Explicit, Proses Transfer Pengetahuan, dan Contohnya

Pengetahuan Tacit merupakan pengetahuan yang diperoleh dari individu (perorangan) yang pengembangannya melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan. Sedangkan Explicit adalah hal yang mudah dikomunikasikan dan dibagi bersifat formal dan sistematis, penerapan pengetahuan explicit akan lebih mudah karena pengetahuannya atau pernyataan yang ada telah didokumentasikan dalam bentuk tulisan. 1

Cara memahami Pengetahuan Tacit bisa dilakukan dengan seperti kita belajar mengendarai sepeda, kita melihat dulu cara orang lain menaiki sepeda lalu kita praktekkan.  Supaya lebih jelas kembali, pengetahuan Tacit memiliki ciri khas yaitu bahwa Tacit diperoleh dari pengalaman, pengalaman yang kita pernah liat, rasakan dan lakukan akan kita memahami pengalaman tersebut melalui percakapan yang kemudian kita cerna di dalam otak kita. Ciri kedua adalah tidak mudah di komunikasikan / diberikan kepada orang lain karena sulit untuk di ekspresikan, karena minimal kita harus menggunakan media dalam penyampaian kepada orang lain. Ciri ketiga adalah dapat di transfer secara efektif melalui person to person basis, yaitu pengetahuan yang di dapat oleh kita akan mudah untuk di transfer melalui percakapan dari kita ke orang lain.2  Sedangkan Pengetahuan Explicit memiliki ciri yaitu berbentuk tertulis, dokumen, formal, laporan dll. Pengetahuan Explicit yang bersifat sistematis ini merupakan dokumen yang tersimpan dan bisa diakses yang bisa dipelajari dalam proses pembelajaran.

Menurut Natalia Kosasih dan Sri Budiani menuliskan bahwa Pngetahuan Tacit bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al, 2004). Mereka menambahkan bahwa pengetahuan Tacit dikategorikan sebagai pengetahuan personal yang berarti yaitu pengetahuan yang diperoleh dari perorangan.    Sedangkan Pengetahuan Explicit bersifat formal dan sistematis yang mudah dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al, 2004). Mereka menambahkan bahwa penerapan pengetahuan explicit lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau dokumentasi. 3

Jadi Pengetahuan Tacit merupakan Pengetahuan atau kemampuan yang kita peroleh dengan melihat, sehingga kita memperoleh berbeda-beda dalam menyerap pengetahuannya. Dan pengetahuan explicit memberikan kemudahan dalam mendapatkan atau menyerap pengetahuan melalui sesuatu yang tertulis.

Kedua pengetahuan ini mampu dikonversikan untuk membentuk 4 proses transfer pengetahuan yaitu sosialisasi, eksternalisasi, internalisasi dan kombinasi. Keempat proses ini dapat kita pahami melalui contoh suatu perusahaan toyota sebagai berikut.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa ada 5 jenis kegiatan berbagai pengetahuan, yaitu di dalam satu kelompok untuk pekerjaan rutin yang serupa dan terus menerus; antar dua atau lebih kelompok yang berbeda tetapi melakukan pekerjaan yang hampir sama; antar dua atau lebih kelompok, tetapi yang dibagi bersama adlah pengetahuan tentang pekerjaan non-rutin; antar organisasi dalam rangka kelangsungan hidup bersama; dari luar kelompok, ketika menghadapi persoalan yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. 4

Ketika perusahaan Toyota ingin mendirikan pabrik baru di suatu tempat, manager mengadakan perekrutan pegawai, kemudian dilatih di tempat pelatihan sebelum bekerja di pabrik baru tersebut, dalam kasus ini terjadi proses internalisasi yaitu buku/modul di pelatihan tersebut dipelajari oleh calon pegawai, modul berarti pengetahuan explicit dan diserap oleh pengalaman di otak calon pegawai tersebut, pengalaman yang disimpan di otak itu berarti pengetahuan tacit. Pengetahuan explicit bertemu dengan pengetahuan tacit terjadilah proses internalisasi.

Calon pegawai tersebut direkomendasikan untuk menjadi pegawai pabrik baru yang bekerja bersama sama dengan sebagian pegawai lama dari pabrik lama. Dalam proses pekerjaannya, terjadilah tukar menukar pengalaman antar pegawai baru dengan pegawai lama, pengalaman pegawai baru berarti pengetahuan tacit dan pengalaman pegawai lama berarti pengetahuan tacit, sehingga terjadilah proses sosialisasi.

Di setiap akhir pekan mereka (pegawai baru dengan pegawai lama) berkumpul untuk membahas permasalahan-permasalahan yang mereka alami saat bekerja, dalam proses tukar menukar informasi tersebut juga terjadi proses sosialisasi. Pada akhirnya tercatatlah suatu hasil diskusi yang berbentuk dokumen untuk dijadikan arsip. Informasi yang dimiliki pegawai berarti pengetahuan tacit, sedangkan dokumen tersebut adalah pengetahuan explicit, sehingga pengetahuan tacit bertemu dengan pengetahuan explicit terjadilah proses eksternalisasi.

Pada akhir bulan, dokumen akhir pekan dikumpulkan menjadi satu untuk dijadikan 1 buku dokumen. Dokumen akhir pekan berarti pengetahuan explicit. Pertemuan antara pengetahuan explicit dengan pengetahuan explicit terjadilah proses kombinasi.

Di bidang pendidikan perpustakaan, ketika dosen perpustakaan membaca penerimaan SK dosen tentang jumlah maksimal sks yang diampu dan waktu untuk penelitian, maka dosen tersebut mempelajari maksud SK tersebut. SK tersebut berarti pengetahuan explicit dan pengetahuan dosen tersebut adalah pengetahuan tacit maka terjadilah proses internalisasi.

Suatu ketika terdapat pertemuan antar dosen yaitu dosen A dengan B, terjadilah proses tukar menukar informasi mengenai jumlah maksimal sks yang seharusnya diampu oleh masing – masing dosen. Ternyata diperoleh suatu informasi bahwa untuk memenuhi tuntutan kualitas proses pengajaran setiap dosen rata-rata adalah 12 sks, sisa waktu dosen lainnya digunakan untuk penelitian. Kemudian hasil pertemuan itu dituliskan dalam sebuah catatan dalam sebuah dokumen oleh dosen B. Pengalaman dosen A berarti pengetahuan tacit, dan pengalaman dosen B juga pengetahuan tacit, sehingga terjadilah proses sosialisasi. Pertemuan antara pengalaman dosen yang disebut pengetahuan tacit bertemu dengan hasil yang berbentuk dokumen tersebut yang disebut pengetahuan explicit, maka terjadilah proses eksternalisasi.

Dosen B tersebut memadukan antara catatan dosen B yang berupa pengetahuan explicit dikombinasikan dengan SK yang berupa pengetahuan explicit. Maka terjadilah proses kombinasi antara pengetahuan explicit dengan pengetahuan explicit.

Contoh ketiga yaitu di perpustakaan, ketika mahasiswa membaca peraturan perpustakaan yang menyatakan bahwa pengunjung dilarang membawa makanan dan makan di dalam perpustakaan. Padalah mahasiswa tersebut enjoy ketika membaca sambil ngemil. Disini terjadilah proses internalisasi yaitu peraturan perpustakaan sebagai pengetahuan explicit dan pemikiran mahasiswa sebagai pengetahuan tacit.

Mahasiswa tersebut berdiskusi dengan layanan konsultasi di perpustakaan tersebut, terjadilah tukar menukar informasi antara mahasiswa dengan pustakawan. Terjadilah proses sosialisasi diantara pengetahuan tacit bertemu dengan pengetahuan tacit.

Kemudian pustakawan menarik kesimpulan lalu menulis hasil diskusi tersebut ke dalam note untuk diserahkan kepada atasannya. Kesimpulan yang ada dipikiran pustakawan tersebut berupa pengetahuan tacit dan note tersebut adalah pengetahuan explicit. Terjadilah proses eksternalisasi.

Antara peraturan perpustakaan dengan note tersebut dikombinasikan menjadi aturan baru. Peraturan perpustakaan adalah pengetahuan ekspilicit dan note tersebut adalah pengetahuan eksplicit. Keduanya bertemu maka terjadilah proses kombinasi.

End.

Terimakasih atas kunjungannya, penulis mengharap kritik, saran dan koreksi yang membangun dari teman-teman semua. Sampai ketemu di artikel selanjutnya.

Daftar Pustaka

1, 3, Jurusan managemen perhotelan, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra (http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=HOT) .

2, (www.sveby.com/articles/tacittest.html) dalam catatan perkuliahan mata kuliah Kapita Selekta Dosen Pengampu Ibu Endang Fatmawati.

4, Bambang Setiarso. 2006.Berbagi PengetahuanKomunitas eLearning IlmuKomputer.Com

Materi semester 6

Contoh Indeks Subyek Surat Kabar: klik disini:

Kelompok KBB (RESOURCE_DESCRIPTION_ACCESS dan INDOMARCH): klik disini.

Hasil Diskusi Isu Publikasi Karya Ilmiah sebagai Syarat Kelulusan Mahasiswa S1 (Kapisel):
1. KEKUATAN HUKUM PUBLIKASI KARYA ILMIAH
2. PRO KONTRA PUBLIKASI KARYA ILMIAH
3. PLAGIARISME DALAM ISU PUBLIKASI KARYA ILMIAH
4. PAYUNG HUKUM PUBLIKASI KARYA ILMIAH
Undang-undangnya:
Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2012 Baca lebih lanjut

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNDIP DAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIMUS

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNDIP DAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIMUS

Guna Memenuhi Tugas Matakuliah Managemen Koleksi

Kelompok: Dicki Agus Nugroho A2D009042; Hendy Prasetya A2D009057

Jurusan S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang 2011

I.                   Pendahuluan

Suatu perpustakaan yang telah berdiri sejak lama atau pun baru saja berdiri pastilah memiliki beberapa kegiatan. Kegiatan yang sudah dilaksanakan pastilah dilaksakan berdasarkan kebijakan dari pemimpin atau stakeholdernya masing-msing perpustakaan. Ada banyak kegiatan dan program suatu perpustakaan seperti koleksi, layanan, jasa, kepustakawanan, pemustaka dll. Kami mendapatkan tugas khusus dalam hal koleksi. Suatu perpustakaan juga memiliki beberapa program untuk mengembangan koleksi yang ada di perpustakaan. Program-program tersebut dilaksakan oleh pustakawan berdasarkan kebijakan dan perintah dari pemimpin atau kesepakatan bersama. Adapun kebijakan-kebijakan tersebut dapat dirangkum dalam suatu aturan otentik yang disahkan oleh pemimpin yang selanjutnya menjadi pedoman bagi pustakawan dan pegawai perpustakaan. Ada pula yang hanya menjadi kesepakatan bersama dari seluruh pustakawan dengan persetujuan pemimpin. Ada 2 contoh kebijakan yang menjadi acuan kami untuk membandingkan diantara kedua kebijakan tersebut untuk menginovasi suatu kebijakan yang layak untuk suatu perpustakaan. Kami mengambil kebijakan pengembangan koleksi dari perpustakaan Fakultas Kedokteran Undip Semarang dan perpustakaan Fakultas Kedokteran Unimus Semarang. Baca lebih lanjut