Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan


Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan

Oleh: Dicki Agus Nugroho, S.Hum. Pustakawan upt perpustakaan universitas tidar di magelang jawa tengah.

Dimuat di PROSIDING SEMINAR NASIONAL: Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan. Surakarta, 21 September 2016. ISI Surakarta (Solo). Jawa Tengah.

dicki@untidar.ac.id; dickiuntidar@gmail.com

Abstrak

Pustakawan mendapat tantangan dan tuntutan dari pemustaka net generation. Jawabannya ada pada tiga bagian yang dipersatukan membentuk satu bulatan penuh yaitu Hard Skill, Soft Skill, dan Spiritual Skill. Ketiganya menjadi bagian utuh yang tidak dapat dipisahkan sehingga mampu menjaga stabilnya kualitas pelayanan perpustakaan. Pentingya spiritual skill menghadirkan sosok pustakawan yang mendekati sempurna. Namun, pustakawan dikhawatirkan mengalami ketidakstabilan spiritual skill karena adanya faktodicki agus nugroho 2.pngr yang bisa melemahkan kemampuan spiritual. Maka perlu alternatif untuk mencegah kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengenalkan sebuah alternatif cara mengetahui tipe kepribadian dan memberikan contoh pratik spiritual pada masing-masing tipe kepribadian. Diharapkan menjadi alternatif bagi pustakawan untuk menjaga stabilnya spiritual skill pustakawan supaya semakin mampu menjagastabilnya kualitas pelayanan perpustakaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi pustaka. Peneliti menggunakan berbagai literatur yang membahas spiritual skill. Hasil dari penelitian ini adalah mengenalkan sebuah alternatif cara mengetahui tipe kepribadian dan memberikan contoh praktik spiritual pada masing-masing tipe kepribadian.

Kata kunci: spiritual skill, pustakawan, big five, kepribadian

Baca lebih lanjut

Hari Buku Nasional 2016: Pelayanan Perpustakaan harus ‘User Oriented’ berdasarkan Fungsi Perpustakaan

Selamat Hari Buku Nasional 2016

Terbaru, hasil studi yang dilaksanakan Central Conecticut State University, Amerika Serikat, yang diumumkan pada Maret 2016, telah menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya.

Budaya literasi pada era sekarang ini tidak bisa dipungkiri lagi telah membludak banyaknya informasi. Inilah benar-benar suatu masa yang di dalamnya terjadi apa yang seperti dinubuatkan Marshall Mc Luhan sekitar setengah abad lalu, yang disebut sebagai information spill-over (peluberan informasi), bahkan banjir informasi. Lihat saja, google sebagai mesin pencari telah membuktikan kepada kita akan banjir informasi kepada masyarakat.

Kehadiran perpustakaan dituntut menyediakan referensi yang falid dan bukan informasi yang menyesatkan. Di internet, banyak sekali informasi yang tersaji, namun banyak pula yang tidak shahih atau benar. Maka perlu kecerdasan memilih dan mensintesiskan informasi yang sahih oleh perpustakaan. Sehingga walau internet menyediakan banyak jawaban kepada masyarakat, namun perpustakaan bisa memberikan satu jawaban yang benar kepada masyarakat.

Tepat hari ini, 17 Mei, diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Tercatat dalam sejarah, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 17 Mei 1980, dibentuklah Perpustakaan Nasional “walau masih dibawah” Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kala itu.

Hari Buku Nasional dicetuskan oleh beberapa komunitas pecinta buku dan juga pemerintah yang bertujuan meningkatkan budaya membaca. Diharapkan dengan dicetuskannya Hari Buku Nasional ini dapat terbentuk masyarakat berbudaya berliterasi. Namun apa kabar budaya literasi di Indonesia?

Di negara-negara yang maju budaya literasinya, popularitas perpustakaan berbanding lurus dengan tingkat kunjungan perpustakaan pada sebuah bangsa. Perpustakaan menjadi salah satu indikator dalam penilaian Negara atau kota literasi oleh Central Conecticut State University. Namun ternyata masih ada banyak penyebab minimnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan Menilik salah satu nasehat bijak dari Albert Einstein, tokoh dunia, mengungkapkan bahwa salah satu yang wajib harus Anda ketahui adalah alamat perpustakaan. Ungkapan itu mungkin tidak berlaku bagi masyarakat beberapa daerah di Indonesia sehingga terjadi penurunan kunjungan di berbagai perpustakaaan.

Contohnya, Perpustakaan Daerah Kuningan di Jakarta pada tahun 2014 mengalami penurunan kunjungan yaitu menjadi rata-rata setiap hari tidak lebih dari 70 kunjungan saja. Lebih tragis terjadi di Solo, jumlah kunjungan turun drastis. Dari tahun 2013 terdapat kunjungan 23.000 pengunjung menjadi hanya 3.000 kunjungan pada tahun 2014. Sedangkan pada 2015, tertanggal bulan Agustus hanya mencapai 300 kunjungan setiap bulannya, jauh dari harapan.

Mari menengok di luar Jawa, Perpustakaan Daerah Mataram misalnya, setiap hari hanya ada 21 kunjungan saja pada akhir tahun 2013 dan jumlahnya semakin menurun hingga akhir 2014. Pada April tahun lalu, semakin parah terjadi Perpustakaan Daerah Banjarmasin, pada hari biasa hanya dikunjungi maksimal 30 orang, per bulan, bukan per hari. Paling mentok 50 kunjungan adalah saat musim skripsi.

Melihat pemaparan realita mengejutkan diatas, tentu muncul pertanyaan. Mengapa itu terjadi? Padahal data kunjungan masyarakat ke perpustakaan merupakan salah satu tolak ukur dari kemajuan peradaban budaya literasi masyarakat itu sendiri.

SOLUSI

Menurut UU 43 / 2007 tentang Perpustakaan, jenis-jenis perpustakaan dikategorikan menjadi lima yaitu Perpustakaan Umum, Perpustakaan Khusus, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan Nasional.

Masing-masing jenis perpustakaan memiliki tujuan yang sama, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui budaya gemar membaca dengan pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perpustakaan berlomba-lomba meningkatkan tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Tindakan awal untuk menanggulangi minimnya kunjungan perpustakaan adalah bukan lagi perpustakaan hanya menyediakan buku saja melainkan menyediakan “sajian“ hasil kemas ulang informasi dari dalam buku supaya tersampaikan kepada masyarakat yang kemudian menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjadi bagian dari budaya literasi.

SESUAIKAN FUNGSI

Satu hal yang harus dipahami dari tiga tugas pokok perpustakaan yaitu pelayanan. Dalam pasal 14 mengenai pelayanan perpustakaan disebutkan bahwa pelayanan berorientasi bagi kepentingan masyarakat. Sehingga dalam memberikan pelayanan atau “sajian” hasil kemas ulang informasi selayaknya menyesuaikan dengan siapa yang diberi layanan.

Melihat dari fungsi perpustakaan yaitu fungsi pendidikan, fungsi penelitian, fungsi rekreasi, fungsi informasi dan fungsi dokumentasi. Masing-masing perpustakaan seharusnya memiliki kecenderungan cara pelayanan menyajikan kemas ulang informasi yang dominan dari satu atau lebih fungsi perpustakaan. Kecenderungan tersebut menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

Setelah mengetahui dominasi fungsi dari masing-masing perpustakaan, maka kekayaan informasi yang berada di dalam buku akan mudah tersaji menjadi sebuah pengetahuan sebagai harta karun terpendam yang harus digali oleh perpustakaan itu sendiri. Untuk menemukan harta karun tersebut, maka perlu dikemas ulang dalam sajian yang bermanfaat, menghibur, sahih atau benar dan nyaman.

Bila penulis boleh mengatakan sajian tersebut layaknya dalam sebuah jamuan makan, yang pertama kali dilihat adalah bagaimana bentuk dan tampilan sajian makanan tersebut. Bila tampilan dan bentuknya menarik, apalagi mampu menciptakan gairah tersendiri bagi penikmatnya maka bukan tidak mungkin akan muncul daya tarik tersendiri lalu disantaplah sajian tersebut sampai habis. Belum lagi citarasa sajian yang tidak hanya lezat melainkan memiliki kandungan yang bermanfaat bagi penikmatnya.

Sajian yang bermanfaat, menghibur, sahih atau benar dan nyaman, akan membuat masyarakat senang dalam menikmati sajian yang disediakan oleh perpustakaan. Bila masyarakat menikmati “sajian”, bukan tidak mungkin masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengetahuan yang terdapat dalam buku. Sehingga masyarakat semakin terbiasa dan lambat laun menjadi suatu budaya berliterasi. Dengan demikian, kelak, data terpuruknya budaya literasi di Indonesia bisa dipatahkan.

Instagram Penulis: PUSTAKAWAN Dicki Agus Nugroho

[Malu-Malu], Berfoto bareng dengan Mantan Kepala Perpustakaan Nasional, Ibu Dra Sri Sularsih M.Si, Jakarta, kamis 12 Mei 2016.

Dicki: Alo ibu, saya dicki, alumni Undip, perpustakaan. Salam kenal.
Ibu: lhoh Undip? Saya juga Undip lho, saya sospol.
Dicki: waaaa kita satu almamater.

{bersambung}

Begitulah cuplikan percakapan saya bersama kepala perpustakaan nasional yang menjabat sejak 2010.

Foto o/ KSNALS

View on Path

Aktivitas Pustakawan sebagai Denyut Nadi Perpustakaan

dicki agus nugroho pelatihan perpustakaan

Aktivitas Pustakawan sebagai Denyut Nadi Perpustakaan.
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan. Dan sumber ilmu pengetahuan itu antara lain berupa buku. Sedangkan perpustakaan, adalah sebuah sarana bagi mereka yang ingin banyak membaca buku dengan cara mudah dan murah meriah.

Elemen penting dalam sebuah perpustakaan itu bukanlah ada pada keberadaan buku itu sendiri, melainkan adanya habitat (kebiasaan) masyarakat membaca.

Menurut organisasi internasional yang fokus pada pendidikan Sekolah Dasar melalui perpustakaan, Room To Read, bermula dari perpustakaanlah kebiasaan membaca siswa (sebagai bagian dari masyarakat sekolah) itu dimulai.

Baca lebih lanjut

Talkshow SBO TV: Peran Ibu Menumbuhkan Minat Baca Anak

sbo tv dicki agus nugroho

Data dari UNESCO pada tahun 2011 menyatakan bahwa indeks baca di Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari seribu penduduk hanya terdapat satu orang yang gemar membaca.

Penelitian tersebut dibenarkan oleh Manajer Program YPPI 2016, Dicki Agus Nugroho, bahwa jumlah penduduk yang sangat besar bisa menjadi alasan tersendiri bagi negara yang memiliki geografis unik yaitu Indonesia.

Namun praktek YPPI di wilayah terdepan dan terluar seperti di Kabupaten Kepulauan Anambas dan Desa Musi Banyuasin Palembang, menggambarkan minat baca anak-anak yang sangat tinggi. Ketika diberitahu ada buku, mereka berebut buku dan sangat antusias. “Layaknya kita yang terkejut dan senang bila dikasih sebongkah emas”, jelas Dicki.

Setelah minat baca telah ditingkatkan, perlu diketahui keterampilan membaca dan pemahaman membaca.

Early Grade Reading Assesment (EGRA) dari USAID pada tahun 2014 menjelaskan pemahaman membaca terendah di Indonesia terdapat wilayah Maluku, Nusa Tenggara dan Papua sebesar 46 persen. Sedangkan di wilayah Jawa dan Bali mencakup 78 persen, Sumatera 69 persen dan Kalimantan-Sulawesi sebesar 60 persen.

Bagaimana di kota Surabaya?

Baca lebih lanjut

9 Persamaan YPPI dengan GOOGLE

yppi google

Bekerja di GOOGLE adalah impian sebagian besar orang. Salah satu alasannya adalah kenyamanan pegawai bekerja.

Saya pernah bekerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang perpustakaan yaitu YPPI – Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, selama 2 tahun 6 bulan 4 hari. YPPI memiliki beberapa kesamaan suasana kerja lho dengan GOOGLE. Tengok ulasan berikut,

1. Setiap tahunnya ada lebih dari 3 juta pelamar masuk ke email google. Google tidak mencari seorang spesialis bidang tertentu melainkan seorang yang universal. Begitu juga YPPI yang mencari seorang yang mampu memahami banyak aspek dari pada spesialis. Bagaikan danau dangkal yang luas, itu lebih baik dari pada sumur yang dalan tapi dalamnya tidak diketahui. Ketika di YPPI, danau itu akan menjadi dalam karena YPPI membiasakan mendalami kemampuan khusus pegawainya.

Baca lebih lanjut

Inilah Metode Menilai Negara dan Kota Berliterasi

Inilah Metode Menilai Negara dan Kota Berliterasi.

Selamat! Negara Indonesia bergelar berliterasi nomor 2 dari bawah.

Ini berita Indonesia menempati nomor 60 dari 61 negara yang diteliti: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html

Lantas Anda bisa juga berikan komentat penelitian tersebut disini: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/15/comments-other-issues-indonesia-second-least-literate-61-nations.html

Lalu siapa saja 10 negara terbaik? Baca beritanya disini: http://tribune.com.pk/story/1064913/10-most-literate-nations-in-the-world/

Bagaimana sih metode yang digunakan? Baca lebih lanjut

Ini Tips Menerapkan Revolusi Mental melalui Membaca

Ini Tips Menerapkan Revolusi Mental melalui Membaca.

Maret 2016 sempat muncul isu pembangunan Perpustakaan Megah oleh DPR. Ada yang pro dan kontra. Lepas dari pro dan kontra itu. Saya menemukan semangat juang membentuk mental membaca. Apa saja itu?

Bapak Pimpinan DPR, Bapak Ade Komarudin, mengatakan, “perpustakaan bagus untuk negara.”

Beliau menyadari akan tidak tersedianya perpustakaan yang memadai. Dan menyadari bahwa negara tetangga yang maju karena kondisi perpustakaannya bagus dan memadai fasilitas dan koleksinya.

Ibu Yeni, Direktur Forum Indonesia bidang Transparansi, pada Artikel yang sama, mengungkapkan bahwa penting pembangunan perpustakaan di wilayah terdepan dan terluar negara Indonesia. Sehingga anak-anak didaerah terluar Indonesia bisa menikmati membaca buku.

Di berita selanjutnya, Bapak Muhidin M Dahlan, komunitas @radiobuku, malah menginginkan UU Buku.

Setali tiga uang, di Kota Surabaya, disaat bersamaan sedang diselenggarakan Seminar Nasional, dengan judul REVOLUSI MENTAL DENGAN MEMBACA Baca lebih lanjut