Security System in Library: Security Gate

Abad ke-21 merupakan era transformasi teknologi canggih. Teknologi berkembang dengan cepat yang terlihat nyata pada peranan internet. Semua perangkat serba elektronik atau digital seperti dokumen elektronik, journal elektronik, dll. Ada pula perpustakaan elektronik atau digital.

Perpustakaan elektonik atau digital menurut Arms (2000) dalam Seminar Nasional Ilmu Perpustakaan Undip di Semarang tanggal 5 Mei 2011 oleh Sulistyo-Basuki, memberikan definisi sebagai berikut:

A managed collection of information, with associated services where the information is storied in digital formats and accesible over a network. A crucial part of thif definition is that the information is managed.

Sedangkan menurut Digital Library Federation dari AS bahwa

“Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual acces to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are reaily and economically available for use by a defined community or set of communities.” (Greenstein, 2000) (Sulistyo-Basuki, 2011)

Perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital. (Supriyanto, 2008:31).

Perpustakaan sekarang dan yang kita pergunakan telah banyak mengalami perkembangan. Salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi sehingga terjadi transformasi perpustakaan menjadi perpustakaan digital atau elektronik.

Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksaan ilmu, sinonim dengan ilmu terapan. Definisi informasi terdapat perbedaan karena pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang diperoleh dari data dan dari observasi terhadap dunia sekitar kita serta meneruskannya melalui komunikasi, (Sulistyo-basuki, 1991: 87).

Seperti yang dikatakan Wahyu Supriyanto dan Ahmad Muhsin, “Kemajuan Perpustakaan banyak diukur dengan penggunaan teknologi informasi yang diterapkan”, (Supriyanto, 2008: 14).

Menurut Ikhwan Arif, 2003:2,3 dalam Makalah Seminar dan Workshop Sehari “Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan Otomasi Perpustakaan Menuju Masyarakat Berbasis Pengetahuan”, penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut:

Pertama, teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi managemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan yaitu pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik, dan sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk automasi perpustakaan.

Kedua, Teknologi informasi sebagi sarana untuk menyimpan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital. (Supriyanto, 2008: 33)

Perpustakaan yang berperan sebagai pengumpul, penyimpan, pengolahan dan pendistribusian informasi secara tidak langsung akan terpengaruh dengan teknologi seiring penggunaan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi mampu mendorong perpustakaan untuk mengembangkan pelayanannya.

Namun demikian, meskipun teknologi informasi mempunyai kelebihan seperti kecepatan dan akurasi akses, pada sisi lain ia juga mempunyai kelemahan seperti biaya yang diperlukan dan biaya perawatannya mahal disamping kita akan sangat tergantung pada teknologi tersebut. Teknologi memang terus maju, tapi media informasi dalam bentuk teks masih tetap banyak dimanfaatkan. Sebab, harganya relatif murah, tidak selalu tergantung pada teknologi informasi, dan mudah dipergunakan (atau dibaca di mana saja), (Suwarno, Wiji, 2007: 35).

Sirkulasi termasuk bidang pekerjaan yang akan diintregasikan dalam sistem informasi perpustakaan. Pelayanan sirkulasi merupakan layanan utama dalam kegiatan suatu perpustakaan yang lebih sering dikenal dengan layanan peminjaman buku. Peminjaman buku untuk dibawa pulang merupakan bagian utama jasa perpustakaan karena tidak semua pemustaka senang membaca buku di perpustakaan.

Mengingat perpustakaan merupakan penyedia jasa sudah barang tentu selalu dikunjungi oleh pengguna dari berbagai macam latar belakang. Termasuk sudah mempunyai keinginan dan niat masing-masing, yang besar kemungkinan berbeda. Ada yang mempunyai niat baik tapi juga ada yang jelek. Terjadinya pencurian koleksi di perpustakaan layaknya fenomena gunung es. Tiap waktu, jumlah buku hilang angkanya lebih besar, (Fatmawati, Endang, 2010: 54-55).

“Perpustakaan FIB Undip pernah kehilangan koleksi buku, skripsi dan buku langka karena kelalaian pustakawan mengawasi pemustaka ditambah dengan tidak adanya security gate” kata Tugirin, S.Hum selaku pustakawan Perpustakaan FIB Undip ketika diwawancarai. Perpustakaan SD Muhammadiyah 13 Semarang pernah kehilangan koleksi buku pula ketika penulis melakukan observasi. Begitu juga di perpustakaan SMA N 3 Sukoharjo yang sering kehilangan koleksi buku. “Di Perpustakaan ini sering terjadi kehilangan buku”, kata Retno Sariningsih, S.Pd. Maka dari itu perlu adanya pengaman koleksi buku untuk menekan angka jumlah buku yang hilang.

Teknologi informasi dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan. Melalui fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya, perpustakaan dapat meningkatkan keamanan dalam perpustakaan dari tangan-tangan jahil yang tidak asing sering terjadi dimanapun, (Surachman, Arif).

M. Solihin Arianto mengungkapkan bahwa guna mengantisipasi kehilangan koleksi perpustakaan sebagai akibat dikembangkannya sisyem layanan mandiri, perpustakaan menerapkan teknologi security system yang terintegrasi dengan program EAS (Electronic Article Surveillance) Gantry. Teknologi ini mampu mendeteksi secara random dari jarak satu meter untuk koleksi yang tidak dipinjam melalui prosedur yang semestinya, (Arianto, M. Solihin).

Wahid Nashihuddin menceritakan penerapan security gate di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam artikel Mesin Sirkulasi mandiri “Book Drop” bahwa di pintu keluar perpustakaan dipasangi perangkat keamanan elektronik yang dikenal dengan Security Gate. Security Gate menggunakan sistem Electronic Article Surveillance (EAS) Gantry, yaitu teknologi yang diterapkan di perpustakaan untuk pintu masuk pengunjung elektronik yang dapat mendeteksi dan menolak pengguna perpustakaan yang tidak terdaftar sebagai anggota perpustakaan. Dengan kata lain, kalau pengguna ingin meminjam koleksi/buku maka harus menjadi anggota perpustakaan, tentunya harus sesuai dengan prosedur dan persyaratan yang sudah ditentukan oleh perpustakaan.
Untuk sistem kerjanya, perangkat security elektronik ini mendeteksi secara otomatis dengan gelombang radio untuk setia buku yang dipinjam ke luar perpustakaan. Akan tetapi, jika buku yang dipinjam tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan (ada kesalahan teknis dari pengguna) maka alarm akan berbunyi, seperti halnya sistem keamanan yang ada di Supermarket/Mall. Selain itu, pintu ini juga dapat menunjukkan data statistik pengunjung secara otomatis berdasarkan kategori anggota perpustakaan, baik per hari, per minggu, maupun per tahun, (Nashihuddin, Wahid, 2011)

Perkembangan perangkat keamanan yang mampu menampilkan kemampuan semakin beragam dan efektif. Perangkat keamanan perpustakaan salah satunya adalah Security Gate. Selain di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Perpustakaan STAIN Salatiga juga menerapkanya. jika dahulu berkunjung ke perpustakaan harus melepas jaket dan dilarang membawa tas atau map, maka sejalan berkembangnya teknologi cctv, security gate, pemustaka tidak lagi dibebani dengan keharusan menanggalkan jaket dan tasnya. (http://stainsalatiga.ac.id)

Perkembangan perpustakaan yang menerapkan security gate membawa dampak pada pelayanan yang efektif yaitu sangat membantu kerja pustakawan dan proses sirkulasi peminjaman buku oleh pemustaka. Penerapan ini juga bersifat bersahabat dengan tidak harus melepas atribut pakaian seperti jaket dan tas, pemustaka akan merasa lebih nyaman dengan berkunjung ke perpustakaan tanpa aturan yang risih.

Situs penjualan security gate supermarket yaitu harrygs.com, menjelaskan program EAS yang digunakan dalam technologi security system dengan terjemahan sebagai berikut, EAS atau Electronic Article Surveillance System yang terdiri dari tiga komponen kunci. Komponen Pertama adalah sistem deteksi. Sistem deteksi adalah peralatan yang terletak di pintu masuk dan keluar toko yang memiliki alarm. Sistem deteksi memiliki banyak bentuk, yang paling sering digunakan adalah dua antena deteksi di kedua sisi pintu. Komponen kedua adalah komponen keamanan yang melekat pada item yang harus dilindungi dari pencuri. Ada berbagai jenis komponen keamanan yang dapat melekat pada item dengan berbagai metode.

Dua metode yang paling populer adalah yang (1)menempelkan paku payung seperti pin yang terhubung ke dalam alarm atau (2)menerapkan stik pada label pada label yang cocok untuk permukaan datar yang halus pada item. jenis ini disebut dengan komponen pengaman lunak. Komponen pengaman lunak ini hanya dapat dipakai selama beberapa dekade. Komponen pengaman ini kemudian dinetralkan dengan a hard tag detacher atau a soft tag deactivator.

A hard tag detacher adalah mesin penetralisir yang digunakan untuk menghapus pin dari komponen pengaman keras. Ada banyak jenis hard tag detachers  agar ada banyak pilihan dengan berbagai jenis komponen pengaman keras. A soft tag deactivator adalah mesin penetralisir yang digunakan untuk mematikan atau menonaktifkan komponen pengaman lunak. Dalam penjumlahan, pelanggan akan berjalan ke toko melalui sepasang antena keamanan. mereka akan membawa item ke kasir dimana pengaman tersebut akan dinetralisir oleh salah satu pengaman keras atau lembut. Sehingga pelanggan dapat meninggalkan toko tanpa terdeteksi alarm keamanan. (http://www.harrygs.com/)

Contoh Security gate:

 

 

 

 

 

 

Contoh Security gate Perpusnas RI:
 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Arianto, M. Solihin. 2007. “Program pengembangan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Menuju World Class University Library”. http://www.google.co.id/search?q=Arianto%2C+M.+Solihin.+2007.+%E2%80%9CProgram+pengembangan+Perpustakaan+UIN+Sunan+Kalijaga+Menuju+World+Class+University+Library%E2%80%9D.+&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a . (diunduh 19 Juni 2012 pukul 11.00 WIB)

Fatmawati, Endang, 2010. The Art of Library. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

http://stainsalatiga.ac.id, 2011. “Artikel Perpustakaan Itu Biasa, Tapi Luar Biasa”.  http://stainsalatiga.ac.id/?p=1156. (diunduh tanggal 19 Juni 2012 pukul 11.03 WIB)

http://www.harrygs.com/  (diunduh 19 Juni 2012 pukul 11.35 WIB)

Nashihuddin, Wahid, 2011. “Mesin Sirkulasi Mandiri “Book Drop”.” http://www.pdii.lipi.go.id/read/2011/08/08/mesin-sirkulasi-mandiri-%E2%80%9Cbook-drop%E2%80%9D.html . (diunduh 19 Juni 2012 pukul 10.44 WIB)

Surachman, Arif. Layanan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi (TI) Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknologi Informasi: Peningkatan Pemahaman dan Ketrampilan SPBI (Sistem Pembelajaran Berbasis Internet) bagi Staf Perpustakaan.” http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=%E2%80%9Clayanan%20perpustakaan%20berbasis%20teknologi%20informasi%20%28ti%29%20makalah%20disampaikan%20dalam%20pelatihan%20teknologi%20informasi%3A%20peningkatan%20pemahaman%20dan%20ketrampilan%20spbi%20%28sistem%20pembelajaran%20berbasis%20internet%29%20bagi%20staf%20perpustakaan.&source=web&cd=1&ved=0CDcQFjAA&url=http%3A%2F%2Farifs.staff.ugm.ac.id%2Fmypaper%2FLPBTI.doc&ei=ruvhT_CtDYX4rQey2JCtAw&usg=AFQjCNE7IRpwSHMyew7zEZi3GyBZbjcrlQ&cad=rja . (diunduh 19 Juni 2012 pukul 11.06 WIB)

Sulistyo-Basuki. 2011. “Perpustakaan Digital di Indonesia: sebuah pandangan.”.Makalah Seminar Nasional Ilmu Perpustakaan Undip di Semarang, 5 Mei 2011 FIB Undip.

Sulistyo-Basuki, 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

Supriyanto, Wahyu dan Ahmad Muhsin, 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Suwarno, Wiji, 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan; sebuah pendekatan praktis. Yogyakarta: Ar-Ruzz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s