MAU DIBAWA KEMANA MEREKA (Mahasiswa Perpustakaan calon Pustakawan)?

[lanjutan] #2. Sedikit coretan untuk wisudawan maupun dosen dan mahasiswa yang masih aktif.

MAU DIBAWA KEMANA MEREKA?

Kemudian, mau dibawa kemana lulusan generasi muda ini berkarier di luar gedung perpustakaan?

Foto: Penulis ditemani adiknya (kok lebih tinggian adeknya ya. haha)

wisudaPenulis mengambil contoh salah satu kabupaten di kampung halaman tercinta yaitu Kabupaten Sukoharjo, selatan Solo (Surakarta) tepatnya. Mohon maaf apabila terlalu subyektif, namun ini demi akurasi pengalaman semata.

Pada akhir tahun 2012, jumlah mahasiswa perpustakaan yang berasal dari Kabupaten yang memiliki batas sebelah barat adalah Kabupaten Klaten ini memiliki minat kuliah di jurusan perpustakaan yang lumayan banyak. Universitas negeri terbesar di jawa tengah menyumbang pasukan literasi paling besar dari kabupaten yang hanya menjadi lalu lalang mobil mewah dan bus ‘dari-dan’ arah Kabupaten Wonogiri dan Yogyakarta serta Solo ini. Kemudian Universitas negeri di kota Kecil Solo dan Universitas Negeri Islam di Yogyakarta melengkapi sudah rute JogloSemar menambah pundi-pundi pejuang kepustakawanan di Kabupaten berpenduduk 851ribu pada tahun 2011 ini (sukoharjokab.go.id). Belum lagi 20an universitas di Indonesia yang menggelar jurusan / program studi yang sama. Universitas negeri dan swasta di Malang, Surabaya, Jakarta dan Bandung misalnya, bertambahlah kekuatan basis massa pejuang informasi ini baik yang di era “Gimana Bro, Masih enak jamanku tho?”, sampai era percaturan bidak hitam putih pertengahan 2014 kelak. Ditambah pula, yang tidak ketinggalan adalah mahasiswa Universitas Terbuka baik S1 maupun D2 menghadirkan angin segar bagi kita semua.

Beberapa dari mereka (pejuang dari Sukoharjo ini) telah sukses meniti karier di bidang pilihannya masing-masing, adapula yang sedang merangkak naik dan adapula yang masing menanti buah mangga jatuh pada musim mangga yang akan tiba.

Pembangunan proyek besar-besaran di kota maupun daerah menunjukkan kemajuan ekonomi masyarakat Sukoharjo. Car Free Day, Hartono Mall, The Park, Taman Proliman (eks Rumah Lowo), Pasar Soekarno, pasar Bekonang-Nguter-Tawangsari, Waduk Mulur dll. Tentunya ini menjadi harapan segar untuk pustakawan muda menciptakan lokasi-lokasi strategis. Hanya saja, apakah kesempatan ini akan hilang begitu saja karena ketidakjelian memanfaatkan perkembangan yang ada. Mungkin ide-ide kreatif perlu dipercikkan untuk menciptakan ide lain yang lebih kreatif dan inovatif.

Bagi daerah lain bisa memperhitungkan sendiri kisaran jumlah pejuangnya dan perkembangan di daerahnya masing-masing. Bersama generasi tua, marilah bersatu membangun kecerdasan bangsa. Akan ada banyak perjuangan di dunia kepustakawanan yang pernah dilakukan oleh beberapa daerah yang beraneka ragam macamnya. Di kota Ende (NTT), tempat dahulu Bung KArno pernah dibuang disini menjadi contoh pertama. “tidak habis fikir, bagaimana kota “pembuangan” sejauh ini bisa memiliki sekolah dengan lulusan yang melahirkan impact besar”, tutur Rhenald Kasali dalam Artikelnya Syuradikara pada Surat Kabar Jawa Pos Oktober 2013. Tokoh-tokoh masyarakat yang namanya biasa kita lihat di media massa seperti pimpinan perusahaan asing, profesional keuangan, aktivis sosial , pendidik terkemuka, wartawan, seniman, pengusaha dan pastor lahir dari sekolah Syuradikara yang memiliki arti Pencipta Pahlawan Utama ini. Berharap dari Kabupaten Sukoharjo, tentunya kelak akan memberi contoh yang sama dari kota kecil Ende ini. Alumnus-alumnus sekolah Syuradikara berbondong-bondong pulang kampung membuka sepotong jendela, memasukkan udara segar agar penerus mereka bisa melihat dunia baru yang benar-benar berubah. Andaikan alumnus dari Kabupaten Sukoharjo bergerak untuk sharing pengalaman dan ilmu masing-masing setiap minggu dalam setahun saja, sudah pasti perubahan akan menjadi kenyataan.

Contoh kedua adalah bergerak di dunia Taman Baca seperti yang dilakukan mahasiswa UI dengan menyelenggarakan Sanggar Kreatif Rumah Kembang di Bekasi. Anak-anak didik mereka adalah anak-anak pemulung yang putus sekolah pasca SMP. Akhirnya empat dari anak didiknya bisa melanjutkan sampai ke jenjang sekolah tinggi di Bekasi. Lima aktivis yang tergabung ini tidak ada yang berasal dari jurusan ilmu perpustakaan namun ide-idenya sangat luar biasa seperti mengajari anak-anak dengan games “pohon mimpi”. setiap anak diminta menuliskan cita-citanya di kertas. Minggu berikutnya games dilanjutkan dengan meminta anak-anak mewujudkan impiannya tersebut. Misalnya, ada anak yang bercita-cita menjadi guru. Pada pertemuan berikutnya anak-anak itu diminta menjadi guru sungguhan dan harus menerangkan sesuatu kepada teman-temannya di depan kelas.

Di Solo pun juga ada, Mahasiswa Psikikologi UNS, Anis Diah A M mengurus Rumah Hebat Indonesia di daerah Ngemplak yang tidak jauh dari Terminal Tirtonadi. Ada banyak ide kreatif disini seperti belajar musik perkusi, belajar bahasa inggris, menari, teater dan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, anak-anak diminta membacakan bunyi pancasila lalu mencontohkan kegiatannya apa sebelum memulai pembelajaran dan mengakhiri pembelajaran dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Seorang lulusan Ilmu Perpustakaan UI, Dini Wikartaatmadja membentuk Kelas Inspirasi dengan memberi pelatihan menulis kepada anak-anak supaya mampu menulis buku. Mungkin meniru seperti John Tondowidjojo Tondodiningrat, cucu Kartini, yang sekarang berusia 80 tahun ini telah memiliki 90an judul buku karyanya sendiri. Laki-laki tua yang pawakannya seperti Pramoedya Ananta Toer ini menggunakan mesin ketik tua untuk menulis semua karyanya.

Wartawan dan Fotografer adalah contoh berikutnya, setiap aksi literasi masyarakat yang sering dilakukan oleh Bapak Mayor Haristanto misalnya. Laki-laki yang berdomisili di Kota Kecil Solo ini selalu ditemani wartawan dan fotografer disetiap kegiatannya memahamkan masyarakat kepada apa yang sedang terjadi dan berharap dengan segala aksinya akan merubah keadaan. Tak terkenal memang, namun sosok kalem nan humoris yang pernah menjadi presiden pasoepati dan eksis di Kick Andi ini mampu melakukannya demi kota tercintanya.

Wartawan dan fotografer selalu berburu informasi terbaru dan dikemas lebih detail sehingga profesi ini menuntut kualitas tulisan dan berita yang selalu dituntut untuk belajar dan belajar.

Selanjutnya, taukah kamu akan ada Kapal Perpustakaan di selat sunda. Sebagian banyak orang pasti belum mengetahui ini. Komunitas Sahabat Pulau yang berkegiatan di pulau Pahawang, Lampung, yang memiliki cita-cita tersebut. Hendriyadi, salah seorang pelopor ini menjelaskan bahwa 25 Maret 2012 adalah tanggal terbentuknya komunitas ini. Namun usia muda tidak menyurutkan prestasi, menjadi Finalis Alumni Engagement Innovation Fund 2012 di AS adalah salah satunya.

Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang menciptakan ide untuk bangsa kita ini. Tidak perlu takud akan kegagalan, berlandaskan ‘cinta’ akan membawamu kepada tujuan mu. Mari mulai dari yang kecil dahulu disekitar kita. Tanamkan ‘cinta’ perpustakaan, ‘cinta’ anak, ‘cinta’ buku, dan cinta-cinta lainnya di dalam diri kita.

Dengan ‘cinta’ akan membawa kita dalam sinergi yang tak terputus mencapai cita-cita.

Salam, Dicki Agus Nugroho Alwayslovekudalaut
Creative Librarian of YPPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s