RIBUAN BUKU PERPUSTAKAAN RAIB

[Foto] Terus Berkurang: Ima Fafrika Sari, pengunjung Peprustakaan Daerah Pacitan, melihat koleksi buku kemarin.

RIBUAN BUKU PERPUSTAKAAN RAIB
Gambar
SUDAH jumlahnya minim, banyak koleksi buku KPAD (Kantor Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi) Daerah Pacitan yang hilang. Banyak pengunjung mengeluahkan hal itu. “Kami ke sini mencari literatur yang tidak ada di kampus. ‘Eh lha kok’ disini juga tidak ada,” keluh Ima Fafrika Sari, seorang pengunjung perpustakaan, kemarin (1/10).
Dia Menyatakan saat ini membutuhkan literatur tentang kepariwisataan di Pacitan untuk melengkapi karya ilmiah. Sayang, kebutuhan literatur tersebut tidak bisa didapatkan lantaran tidak ada.
Ketika dikonfirmasi, Kasi Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Daerah Pacitan, Sumar Dwi Indrawan menyatakan bahwa saat ini perpustakaan yang dia kelola memang minim koleksi. Bahkan, saat ini hanya tercatat 22.002 eksemplar buku dari 10 klasifikasi. Jumlah tersebut sangat sedikit dibanding dengan kebutuhan 1.742.168 pembaca dari usia baca produktif. Yakni, dari 10 tahun sampai 64 tahun.
Betapa tidak, minimnya buku itu terjadi karena dua faktor. faktor pertama, hingga saat ini, dua ribu eksemplar dari berbagai klasifikasi hilang dibawa kabur peminjam. “Mau menagih, kami tidak memiliki biaya. Kalau dibiarkan, kami terus merugi karena buku kami sering dipinjam, tapi tidak dikembalikan,” tuturnya. “Ada yang nakal juga. KTP mau kadaluwarsa dipakai untuk meminjam. Terus, buku dibawa kabur,” jelasnya.

Menurut jawaban dari bapak Sumar diatas yang menyatakan bahwa ada pemustaka yang nakal menggunakan KTP kadaluwarsa untuk meminjam koleksi. Lalu, buku dibawa kabur oleh pemustaka. Tentunya ini menjadi contoh bagi perpustakaan lain supaya tidak terjadi kesalahan yang sama dalam persyaratan anggota baru menggunakan KTP. KTP atau Kartu tanda Penduduk merupakan salah satu identitas yg wajib dimiliki bagi masyarakat Indonesia, apalagi dengan berkembangnya Iptek dikembangkanlah sistem chip yang tertanampadai KTP tersebut. Sistem chip ini harapannya bisa didayagunakan oleh perpustakaan dalam pendaftaran anggota baru kelak nantinya. Namun saat ini, sistem chip KTP ini belum bisa digunakan, mungkin masih menunggu bebrapa tahun lagi.
Sebenarnya dalam perkembangan bidang Iptek di dunia maya yang digandrungi berbagai kalangan dari yang tua sampai kawula muda ini bisa menjadi alternatif baru bagi perpustakaan untuk didayagunakan. Sosial Media adalah salah satu media yang menjadi favorit masyarakat indonesia di usia pembaca produktif yaitu umur 10-64 tahun. Salah satunya adalah FACEBOOK. Setiap anak Sekolah Dasar saja sudah memiliki akun facebook, dan akfit puladengan sering mengunggah kegiatannya apa aja, narsis sasa sini, sedang ada dimana dan bersama siapa selalu terjadi aktifitas pada akun nya. Kalangan orangtua tidak mau kalah, akun facebook menjadi ajang mencari teman mereka sewaktu kuliah, sekolah atau mantan kekasih mungkin. hehe.
Facebook bisa menjadi alternatif bagi perpustakaan yang ingin tidak kecolongan dengan KTP yang kadaluwarsa. Pemustaka diwajibkan menuliskan alamat (nama) facebooknya, dengan begitu pustakawan bisa melihat akun dan aktivitas serta tempat tinggal serta riwayat pendidikannya.
Namun, tidak sedikit yang mencantumkan identitas palsu mereka. Bagi akun yang tidak lazim alias kemungkinan manipulasi akan ada. Seperti yang diungkapkan Teguh Arifiyadi, S.H., M.H. dalam hukumonline.com sebagai beriku
“…memungkinkan setiap orang memiliki identitas berbeda, memiliki lebih dari satu identitas, dan dengan banyak karakter, sesuai dengan keinginan dan tujuan pemilik identitas. Manipulasi identitas termasuk foto diri maupun video sangat mudah dilakukan meskipun pelakunya bukan seorang yang mengerti teknologi informasi dengan baik…”
Pustakawan diharapkan jeli dalam mengecek akun facebooknya, sudah aktif berapa lama dan walaupun ini tidak menjadi persyaratan pokok. akan tetapi bisa menjadi alternatif untuk melacak keberadaan pemustaka yang nakal tersebut. minimal pustakawan bisa mengetahui dari teman-temannya.
Hanya alternatif, boleh dicoba boleh juga tidak. hanya sekedar ide.

Salam, Pustakawan Kreatif.

Sumber: jawapos oktober 2013

2 thoughts on “RIBUAN BUKU PERPUSTAKAAN RAIB

  1. Waktu pertama daftar, orang tidak bisa langsung pinjam tapi tunggu surat dari pihak perpus (memastikan alamat real). Keanggotaan harus diperpanjang tiap tahun (memastikan ybs tidak meninggal dan ID disalahgunakan, pindah alamat dll). Tidak bisa mencegah, tapi mungkin bisa jauh mengurangi kehilangan buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s