Wedges , Batik dan Pustakawan

Foto: Raisa dan Shane Filan (Mantan Personel Wistlife) membuka konser mini Shane Filan di Hard Rock Cafe Jakarta. Shane begitu menarik perhatian dengan kemeja batiknya. Sedangkan Raisa dengan anggunnya menyanyi dan mampu menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.Batik dan pustakwan

Mari kita lirik si cantik Raisa dahulu, guys. Tampil dengan wedges nya, dia begitu cantik. (Maaf ya saya potong bagian bawahnya, hehe supaya anda lebih fokus pada pembahasan, bukan pada fotonya) [sesekali lihat boleh kok]. Dengan wedges pada sepatu akan memperbaiki penampilan dan juga menambah kepercayaan diri. Itu tidak dipungkiri lagi.

Penulis mengajak pembaca untuk mengingat pernah melihat pustakawan atau pegawai perpustakaan yang memakai wedges tidak? Ada yang pernah melihat memakai wedges dan ada juga yang tidak memakai nya atau hanya dengan sepatu trepes / flat (datar) saja.

Bayangkan seandainya pustakawan perpustakaan yang terutama bagian front line adalah pustakawan seperti Raisa atau Shane Filan (Shane tidak pakai wedges lho), tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi perpustakaan tersebut.

wedges bukan hal mutlak untuk mempercantik diri bagi seorang wanita, namun sebagai penunjang seorang wanita yang memakainya akan memiliki cara berjalan yang berbeda. Lebih anggun pastinya. “Siapa sih yang tidak indah melihat seorang wanita berpenampilan dengan wedges, Guys?”.

Ena Vadaq seorang pebisnis dan sosialita Yogyakarta mengungkapkan bahwa salah satu property untuk tampil anggun, rapi, elegan dan feminin adalah dengan menggunakan high heels atau wedges (Jawapos 3 Okt 2013).

Bagi pustakawan perempuan, tidak salah mencoba untuk menunjang penampilannya dengan wedges tersebut. Terutama bagi yang berusia tergolong muda, akan sangat diharapkan berpenampilan cantik. Nha, bagi fresh graduate yang tidak pernah pakai high, bisa dicoba nih. Jangan hanya sewaktu menghadiri wisuda saja. Tidak salahnya mencoba berpenampilan rapi dan anggun dengan wedges.

Dalam materi “Carier Coaching” yang pernah penulis dan mungkin pembaca ikuti, sebagai seorang wanita pencari kerja akan diberi penjelasan bagaimana berpenampilan dan berjalan baik dalam menemui pewawancara maupun ketika bekerja kelak. Wedges menjadi pelengkap yang diharapkan pencari kerja memakainya. Pewawancara akan menilai pertama kali seseorang peserta wawancara melalui pandangan pertamanya yaitu penampilan peserta tersebut. maka dengan pustakawan berpenampilan menarik, pemustaka atau kolega akan lebih tertarik untuk melanjutkan percakapan sampai kebutuhan informasinya terpenuhi.

Banyak manfaat tentunya memakai wedges. Namun perlu mengantisipasi dampak negatif dari penggunaan wedges tersebut.

Namun sebelum masuk ke dampaknya, penulis mengajak untuk melirik si Shane Filan dulu. (Kasian kalau dianggurin, hehe).
Shane berpenampilan berkemeja batik ketika manggung di Indonesia. Inilah salah satu cara menarik perhatian publik atau penonton untuk tetap fokus memperhatikan penampilannya di panggung. Apalagi jadwal manggungnya bertepatan dengan hari Batik Nasional kita (2 Okt).

Penampilan Shane perlu dicontoh bagi pustakawan. Apa saja itu?

Pertama, berani berpenampilan berbeda namun tetap menarik. Menggunakan batik adalah hal yang berbeda bagi Shane. Bagi pustakawan harus mampu menemukan tampilan berbeda disetiap harinya agar pemustaka tidak bosan dan tertarik berinteraksi dengan pustakawan. Batik sudah menjadi makanan pokok harian bangsa kita. Pustakawan bisa menggunakan bermacam motif batik yang kaya jenisnya di Indonesia. Semakin banyak motif batik, semakin menarik tentunya. Apalagi setiap batik itu memiliki nama dan makna. Penulis yakin banyak pembaca yang tidak paham nama dan makna dari batik yang mereka pakai. Dengan mengenalnya, pustakawan dapat memerkan batik yang mereka pakai kepada sesama pustakawan dan tentunya kepada pemustaka.

Pustakawan akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru dan tidak akan hilang namun malah bertambah. Kenapa? Karena pustakawan dituntut oleh penulis (maaf maksa, hehe) untuk pamer kepada Pemustaka bertujuan membagi ilmu tentang ke-batik-an kepada semua yang hadir di perpustakaan.

Dengan berbagi ilmu, akan semakin bertambah ilmunya, bukan berkurang ilmunya. Betul nggak, Guys?

Pemustaka akan merasa diperhatikan sebagai tamu di perpustakaan tersebut. Apalagi informasi nama dan makna batik itu ditampilkan di layar monitor yang ada di perpustakaan atau di tempel di mading.

Nha, setelah pustakawan mencoba ide pertama ini, mari lihat ide kedua yaitu ‘moment’ bahwa pustakawan harus jeli melihat moment. contohnya di Hari Batik Nasional (kemaren). Pustakawan wajib memakai batik adalah contohnya. Bagaimana dengan moment seperti hari satwa esok hari (jumat 4 Okt) ? Memakai pakaian hewan atau kostum hewan seperti Shaun the Ship. Kebetulan pertengahan bulan ini ada hari besar kurban. Bisa kan itu dimanfaatkan momentnya. Atau ketika timnas menang. Pustakawan memakai kaos atau kemeja timnas adalah ide kreatif selanjutnya, dan masih banyak lainnya. So, jangan sampai ketinggalan momentnya, Guys.

Setelah banyak kreatif, jangan lupa pesan yang disampaikan Shane pasca bubarnya westlife, Shane mengatakan “saya ingin bernyanyi selama mungkin”.

Nha pustakawan juga harus bernyanyi, bernyanyi menyuarakan literasi bagi masyarakat Indonesia. bernyanyi menghidupkan moment-moment untuk menarik perhatian masyarakat datang dan menggunakan layanan perpustakaan.

Begitu ide-ide yang bisa penulis tularkan dengan seadanya.

Kembali kepada dampak negatifnya high heels atau wedges bagi perempuan (Jawapos 3 Okt halm 17).

Kinerja menjadi lebih pelan karena tidak dianjurkan untuk berlari ketika memakai wedges. Menyeimbangakan dan menyelaraskan tubuh akan membuat dampak pada postur, betis, lutut, tendo achilles, tumit, tulang kaki dan hammertoes.

Pemakaian jangka panjang akan memunculkan nyeri parah di tungkai dan tulang belakang sehingga postur tubuh akan berubah. Otot betis yang sering kontraksi memendek dan kaku akan ada nyeri di kaki, lutut dan tulang belakang. Lutut akan terasa nyeri sehingga memicu radang sendi. Tendon achilles beresiko terjadi peregangan dan radang tendon. letak otot ini ada di bawah betis.

Terkadang terkilir pada pergelangan kaki sampai sampai patah tulang pun bisa menjadi ancaman. Pada tumit bisa terjadi benjolan di bagian belakang tumit karena iritasi berkepanjangan. Tulang kaki pada jari kaki akan memicu metatarsalgia yang ditandai dengan nyeri. Dan Hammertoes yaitu membuat posisi jari kaki yang mirip memeras saat mengenakan high heels akan berdampak jari keriting.

Selain dampak, penulis akan memberikan solusi untuk mengurangi dampak tersebut.

Usahakan tinggi maksimal adalah 2 inchi. Penggunaannya tidak lebih dari 40 jam dalam seminggu. Dokter Totok M dari alumnus FK Unair menyarakan untuk memilih ujung sepatu yang terbuka. Sering lakukan pemijatan rinfan pada betis dan telapak kaki pada saat jam istirahat.

Sedangkan menurut Ena, menggunakan plester khusus yang sewarna dengan kulit untuk ditempelkan di bagian tumit atau ujung luar kaki yang bersentuhan langsung dengan tepian sepatu adalah solusi pertama untuk sepatu high heels atau wedges yang masih baru. Selama perjalanan menuju peprustakaan atau kantor hendaklah memakai sandal atau sepatu trepes / flat (datar) terlebih dahulu. Mengoleskan minyak zaitun dan memijat mijat sewaktu sudah sampai rumah kembali adalah trik terakhir setelah kaki dicuci. Sesekali naikkan kaki ke atas, sementara posisi badan tiduran.

Sekian tulisan penulis yang semoga mampu memupuk ide kreatif lainnya.

2 thoughts on “Wedges , Batik dan Pustakawan

  1. Hehe banyak yang menganggap perempuan yang memakai wedges atau heels itu lebih anggun, tapi ini tanpa sadar bikin banyak juga perempuan yang memaksakan diri untuk memakainya hanya supaya dibilang anggun padahal kaki sampai sakit dan pegal2 ;p.
    Kalo menurut saya pribadi sih, anggun/tidaknya, keren/tidaknya seorang pustakawan perempuan tdk bisa dilihat dari memakai wedges atau tidak. Kalau memakai wedges (dibilang) lebih anggun tapi mobilitas sebagai pustakawan jadi terbatas justru malah bisa mengganggu kinerja. Kalo di tempat sini, saking seringnya mondar-mandir, pustakawan malah berganti sepatu dengan yang datar saja😉. Saya sendiri nggak pake heels/wedges dan pilih yang datar saja karena bertentangan dengan tulang punggung :p.
    Sementara kalau untuk batik rata2 staf di berbagai kantor & mahasiswa memang memakainya di setiap Jumat, bukan hanya pustakawan.
    Anyway, terus menulis dan salam pustakawan😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s