Talkshow SBO TV: Peran Ibu Menumbuhkan Minat Baca Anak

sbo tv dicki agus nugroho

Data dari UNESCO pada tahun 2011 menyatakan bahwa indeks baca di Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari seribu penduduk hanya terdapat satu orang yang gemar membaca.

Penelitian tersebut dibenarkan oleh Manajer Program YPPI 2016, Dicki Agus Nugroho, bahwa jumlah penduduk yang sangat besar bisa menjadi alasan tersendiri bagi negara yang memiliki geografis unik yaitu Indonesia.

Namun praktek YPPI di wilayah terdepan dan terluar seperti di Kabupaten Kepulauan Anambas dan Desa Musi Banyuasin Palembang, menggambarkan minat baca anak-anak yang sangat tinggi. Ketika diberitahu ada buku, mereka berebut buku dan sangat antusias. “Layaknya kita yang terkejut dan senang bila dikasih sebongkah emas”, jelas Dicki.

Setelah minat baca telah ditingkatkan, perlu diketahui keterampilan membaca dan pemahaman membaca.

Early Grade Reading Assesment (EGRA) dari USAID pada tahun 2014 menjelaskan pemahaman membaca terendah di Indonesia terdapat wilayah Maluku, Nusa Tenggara dan Papua sebesar 46 persen. Sedangkan di wilayah Jawa dan Bali mencakup 78 persen, Sumatera 69 persen dan Kalimantan-Sulawesi sebesar 60 persen.

Bagaimana di kota Surabaya?

Di Surabaya, minat baca berbanding terbalik dengan penelitian UNESCO, bagaimana tidak. Data 2014 yang diunggah pada awal 2016 oleh Perpustakaan Kota dan Universitas Airlangga ini menyatakan peningkatan minat baca dari 38 % menjadi 59,6%.

Indikator peningkatan berasal dari jumlah kunjungan, jumlah peminjam dan jumlah kegiatan. Hal senada diungkapkan Dicki bahwa jumlah jumlah pengguna perpustakaan dan sirkulasi merupakan sub bagian dari indikator di Amerika dalam menentukan kota paling berliterasi oleh Central Connecticut State University pada tahun 2005 yang dikoordinatori oleh Dr John W Miller.

Sehingga peningkatan minat baca ini mendukung program Pemerintah Surabaya yaitu Surabaya menuju Kota Literasi.

Minat Membaca itu sendiri berasal dari dua kata yaitu Minat dan Baca. Minat berarti faktor psikis yang menyebabkan membaca seperti dorongan, ketertarikan, keinginan, kesukaan, bermanfaat, kepuasan dll. Membaca berarti melihat dan memahami isi, melafal, mengucapkan, dan menduga. Sehingga minat membaca adalah aktivitas yang dilakukan dari diri sendiri agar memahami dan menemukan makna sehingga terbentuk pola komunikasi dari tulisan yang dibaca kemudian memperoleh informasi sebagai proses pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepanjang hayat.

Menengahi talkshow ini, muncul Pertanyaan menggelitik, seberapa pentingkah membaca? Jawabannya Seperti seberapa penting makan! Makan sudah menjadi kebutuhan, bila tidak makan maka menjadi lemas bahkan sampai pingsan. Sebenarnya membaca harus menjadi kebutuhan sepertinya makan, namun belum disadari saja oleh setiap insan. Nhah disini peran pemerintah meyakinkan anggota keluarga terutama ibu. Semakin cepat maka semakin baik, jangan sampai terlalu berlama-lama yang akan mengakibatkan semakin lama pula membentuk kesadaran pentingnya membaca.

Internal perpustakaan sendiri, seharusnya mendukung pemerintah dalam menyadarkan masyarakat dengan menyediakan pustakawan yang handal. Pustakawan sebagai perwakilan di perpustakaan. Pustakawan haruslah bisa memilihkan dan mengarahkan buku mana saja yang cocok bagi pembacanya. Karena menurut hukum Ranganathan, setiap pembaca terdapat bukunya.

YPPI sendiri memiliki cara memberikan buku yang tepat bagi pembacanya. Kami mempelajari penjenjangan buku bagi anak-anak. Kami sediakan level 1-6. Level satu misalnya, kontennya terdiri dari 90% gambar atau ilustrasi dan hanya memiliki tulisan satu huruf sampai tiga kata saja. Level dua menurun prosentasi gambarnya menjadi 70-80% dan meningkat jumlah katanya yaitu 2 sampai 5 kata setiap halamannya. Begitu seterusnya.

Dian Novita Fitriani, tengah, mengungkapkan Berbicara tentang minat baca yang cukup rendah di Indonesia, jika ditanya penyebabnya, salah satu faktor penyebab yang cukup dominan adalah pembiasaan yang terbentuk daam sebuah keluarga.

Mengapa keluarga?

Karena keluarga, khususnya ibu menjadi tonggak awal penanaman minat baca pada anak dimulai sejak dini, tidak hanya ketika anak mulai bisa membaca saja. Tapi kita sebagai orang tua perlu mendekatkan anak kepada buku semenjak dia mampu bersosialisasi. Tingkat pendekatan anak terhadap buku tentunya ditentukan dengan tingkat kognitif dari jenjang umur anak tersebut.

Oleh karena itu tidak salah jika ada istilah bahwa generasi cerdas lahir dari ibu yang cerdas.

Nah bagaimana dengan ibu yang masih kurang dalam hal pendidikan?

Untuk mengedukasi anak, memang pada hakikatnya perlu model dalam berbagai hal termasuk kebiasaan membaca. Menumbuhkan minat baca pada ibu-ibu terlebih dahulu menjadi hal penting juga untuk diperhatikan. Para orang tua dapat distumulus dengan lingkungan eksternal dalam menumbuhkan minat baca pada dirinya sendiri.

Menurut Sticht & McDonald, 1990, pendidikan ibu menjadi faktor paling penting dan berpengaruh terhadap level membaca anak dan prestasi di sekolah. Ibu yang berpendidikan tinggi cenderung lebih berhasil dalam mengajarkan kemampuan kognitif dan bahasa. Selain itu, anggapan bahwa perkembangan literasi tidak penting dalam lingkungan rumah dan diserahkan sepenuhnya pada pihak sekolah.

Saat ini banyak gerakan-gerakan wanita yang fokus pada peningkatan minat baca. Hal ini menjadi supporting system pemerintah dalam upaya peningkatan minat baca. Berbagai gerakan ini didasari oleh perasaan yang sama diantara para ibu dalam meningkatkan kecerdasan anak-anak dengan membaca.

Sejak kapan harus menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak-anak?
Sebagai orang tua kita harus memahami perkembangan kognitif anak dalam setiap jenjang umurnya. Sesuai dengan studi yang telah dilakukan membuktikan bahwa kecerdasan anak akan mencapai angka 40% pada usia 4 tahun dan mencapai 60% pada usia 7-8 tahun, dimana pada range umur ini anak biasa disebut dengan golden age atau masa emas untuk menanamkan dasar-dasar perilaku dan sikap, emosional dan kognitif.

Oleh karena itu, sejak usia dini orang tua wajib menumbuhkan minat baca pada anak. Dikarenakan membiasakan anak membaca sejak dini pada dasarnya adalah upaya untuk merangsang anak untuk melakukan eksplorasi terhadap informasi secara mandiri dan kreatif.

Talkshow SBO TV: Peran Ibu Menumbuhkan Minat Baca Anak. Live, 4 Januari 2016. 12.30-13.00 WIB.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s