Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan


Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan

Oleh: Dicki Agus Nugroho, S.Hum. Pustakawan upt perpustakaan universitas tidar di magelang jawa tengah.

Dimuat di PROSIDING SEMINAR NASIONAL: Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan. Surakarta, 21 September 2016. ISI Surakarta (Solo). Jawa Tengah.

dicki@untidar.ac.id; dickiuntidar@gmail.com

Abstrak

Pustakawan mendapat tantangan dan tuntutan dari pemustaka net generation. Jawabannya ada pada tiga bagian yang dipersatukan membentuk satu bulatan penuh yaitu Hard Skill, Soft Skill, dan Spiritual Skill. Ketiganya menjadi bagian utuh yang tidak dapat dipisahkan sehingga mampu menjaga stabilnya kualitas pelayanan perpustakaan. Pentingya spiritual skill menghadirkan sosok pustakawan yang mendekati sempurna. Namun, pustakawan dikhawatirkan mengalami ketidakstabilan spiritual skill karena adanya faktodicki agus nugroho 2.pngr yang bisa melemahkan kemampuan spiritual. Maka perlu alternatif untuk mencegah kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengenalkan sebuah alternatif cara mengetahui tipe kepribadian dan memberikan contoh pratik spiritual pada masing-masing tipe kepribadian. Diharapkan menjadi alternatif bagi pustakawan untuk menjaga stabilnya spiritual skill pustakawan supaya semakin mampu menjagastabilnya kualitas pelayanan perpustakaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi pustaka. Peneliti menggunakan berbagai literatur yang membahas spiritual skill. Hasil dari penelitian ini adalah mengenalkan sebuah alternatif cara mengetahui tipe kepribadian dan memberikan contoh praktik spiritual pada masing-masing tipe kepribadian.

Kata kunci: spiritual skill, pustakawan, big five, kepribadian

 

Gambar 1. Kerangka Berfikir

Dicki Agus Nugroho - Diagram Kerangka Berfikir - Makalah Pentingnya Spiritual Skill dalam Pelayanan Perpustakaan.PNG

PENDAHULUAN

Hasil survey Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks / HDI) menempatkan Indonesia pada peringkat 5 terbawah dari 106 negara Asia dan Afrika. Lambannya pertumbuhan HDI Indonesia mengakibatkan berada di posisi nomor paling bawah di antara 12 negara Asia. Menilik upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang selalu dilakukan, terutama pada pustakawan. Upaya telah dilakukan baik oleh individu itu sendiri maupun oleh lembaga perpustakaan dan juga pemerintah, seperti melalui berbagai aktivitas peningkatan kapasitas diri. Sebagaimana salah satu survey yang dilakukan pada pustakawan di perpustakaan dalam menghadapi net generation, usaha peningkatan kapasitas diri tersebut belum menunjukkan keberhasilan perpustakaan yang diharapkan kepada pemustaka secara signifikan (Nugroho, 2015).

Tahun ajaran baru 2016/2017 telah dimulai di masing-masing Perguruan Tinggi. Sadarkah pustakawan bahwa mahasiswa baru adalah manusia yang begitu lahir telah mengenal teknologi. Begitu pula dengan beberapa angkatan sebelumnya. Rata-rata mahasiswa tersebut yang menjadi pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah yang memiliki tahun kelahiran antara rentang tahun 1995 sampai 2000.

Menurut Byerly (2010), bagi manusia kelahiran tahun 1995 sampai sekarang sering disebut dengan Generation Z atau Net Generation atau Digital Natives atau The Native Gadget. Ada beberapa panggilan bagi mereka. Pada kajian ini, penulis menggunakan istilah net generation. Di lingkungan Perguruan Tinggi, mudah sekali menentukan tipe atau karakter net generation. Menurut Breeding (2006), karakter net generation adalah (1) Kurang bersabar terhadap layanan online yang tidak efektif dan lamban. (2) Sering membandingkan layanan perpustakaan dengan layanan komersial dan mesin pencari. (3) Tidak suka melihat daftar yang panjang dan (4) Kecenderungan menggunakan mesin pencari dalam mencari informasi. Dan (5) pola perilaku pencarian informasi didominasi dengan menggunakan mesin pencari.

Karakter tersebut telah membuktikan perubahan kebutuhan dan model pencarian pemustaka seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan ini juga menuntut perpustakaan dan pustakawan di dalamnya untuk mengikuti karakter pemustakanya dalam memberikan pelayanan. Haryanti (2013), tokoh konsultan perpustakaan, mengungkapkan pentingnya layanan perpustakaan yang terintegrasi berbasis kebutuhan pemustaka (user oriented). Era net generation membuktikan adanya tantangan kepada pustakawan bahwa telah terjadi perubahan perkembangan pola perilaku pencarian informasi yang pesat sebagai suatu kebutuhan pemustaka. Menurut Anda, apakah pustakawan mampu memberikan solusi terhadap tantangan maupun tuntutan yang telah berada di depan mata ini. Sehingga mau tidak mau, pustakawan tidak hanya lagi diharapkan, namun harus bisa memberi pelayanan yang berorientasi kepada pemustaka net generation ini. Bila gagal, bukan tidak mungkin bahwa pemustaka akan meninggalkan perpustakaan dan beralih kepada jasa pelayanan informasi selain perpustakaan.

Melihat fenomena yang ada, ketika pustakawan dalam melaksanakan tugasnya di perpustakaan tidak hanya diukur secara kemampuan teknis ataupun hard skill seperti mengoperasikan komputer; berbicara berbagai bahasa; melakukan katalogisasi; dan tugas lainnya yang bisa diajarkan secara formal dan mudah diamati, akan tetapi pustakawan membutuhkan keterampilan lain yang bersifat non-teknis atau soft skill. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sari (2010) bahwa keterampilan soft-skill tersebut adalah kemampuan berkomunikasi; kemampuan berwirausaha; kemampuan manajemen & kepemimpinan; kemampuan bersosial & berjejaring; dan kemampuan bertingkahlaku & menempatkan diri; serta kemampuan karakter diri lainnya yang tidak bisa diukur dengan mudah.

Soft skill atau kemampuan keterampilan pribadi memiliki manfaat untuk berinteraksi dengan orang lain secara produktif & positif serta untuk mengatur diri sendiri sehingga mampu mengembangkan kinerja bagi pustakawan secara maksimal. Pada awalnya, profesionalitas pustakawan yang dapat dilihat kasat mata adalah kemampuan pada tataran hard skill. Kemudian untuk kemampuan secara soft skill akan meningkatkan profesionalitas pustakawan dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka net generation. Menurut survey yang dilakukan pada pustakawan di perpustakaan dalam menghadapi net generation, seorang pustakawan akan lebih mendekati sempurna apabila dibalut dengan kemampuan lain yang tidak kalah pentingnya yaitu spiritual skill atau kemampuan spiritual (Nugroho, 2015). Sehingga pada kajian kali ini, penulis memfokuskan kajian pada pentingnya spiritual skill pada pustakawan dalam pelayanan perpustakaan.

Rotmianto (2015), seorang pustakawan berprestasi terbaik peringkat kedua tahun 2015 versi Perpustakaan Nasional ini mengungkapkan bahwa spiritual skill juga sangat diperlukan. Terlebih sebagai pustakawan yang hidup di negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa seperti Indonesia ini, dimana agama sudah menjadi sendi dasar dalam peri kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Apabila pustakawan hanya berbekal hard skill dan soft skill saja maka kurang lengkap sebagai pustakawan yang berliteret teknologi. Akan lebih sempurna lagi bila dilandasi spiritual skill dalam memberikan pelayanan.

Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) sebagai contoh perpustakaan yang telah memahami pentingnya spiritual skill bagi pustakawan. Dalam membangun layanan perpustakaan dibutuhkan keberanian dan komitmen untuk berubah. Tentunya berubah untuk menjadi lebih baik  melalui spiritualitas. Langkah yang dilaksanakan Perpustakaan ITS adalah menerapkan membangun spiritual skill pustakawan dengan cara (1) melakukan Siraman Rohani atau pengajian yang dilaksanakan setiap hari jumat minggu terakhir setiap bulannya. Materi yang disampaikan adalah tentang kehidupan sehari-hari termasuk menjadi pustakawan yang bermanfaat sehingga bisa dipraktekkan dalam memberikan pelayanan perpustakaan. (2) Melakukan pencerahan pagi setiap hari kecuali hari jumat. Tujuan kegiatan rutin ini adalah mengisi pikiran dengan hal-hal positif sehingga diharapkan bisa dipraktekkan ketika memberikan pelayanan perpustakaan. (Achmad, dkk, 2012)

Miyagi, tokoh di film The Karate Kid tahun 1989, dalam Biberman (2007) berkata bahwa keseimbangan seseorang tidak hanya untuk beladiri karate, tapi seluruh kehidupan seseorang harus seimbang. Pustakawan perlu menyadari bahwa bukan hanya pekerjaan saja sebagai tujuan hidup untuk mencapai keseimbangan, tetapi seluruh aktivitas di dalam kehidupan pustakawanlah yang harus seimbang. Maka antara hard skill, soft skill dan spiritual skill juga harus seimbang dan tidak dapat dipisahkan. Logikanya bila seseorang menguasai hard skill di bidang teknologi informasi dan komunikasi akan tetapi tidak memiliki spiritual skill, bisa mengakibatkan hal-hal yang merugikan karena ketidakseimbangan tersebut.

Wikipedia dalam Rotmianto (2015) mendefinisikan spiritual skill atau kecerdasan spiritual yang juga biasanya disebut dengan istilah SQ (Spiritual quotient) pada umumnya adalah suatu kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif dan merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalan itu. Ciri utama dari kecerdasan spiritual ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.

Reave (2005) dalam Pawar (2013) memberikan contoh spiritual skill seperti memiliki integritas, kejujuran, kerendahan hati, menciptakan diri sendiri sebagai contoh kepada orang lain yang dapat dipercaya, dapat diandalkan dan dikagumi. Maka dalam mengembangkan kapasitas diri untuk memenuhi tantangan dan tuntutan kebutuhan pemustaka net generation ini diperlukan spiritual skill sebagai bagian dari kepribadian pustakawan.

Spiritual skill pada pustakawan memiliki kapasitas yang tidak sama. Hal itu terjadi dalam proses perjalanan hidup. Hasilnya, ada aspek spiritual skill yang terlihat kuat atau lemah pada pribadi tertentu. Walaupun manusia adalah makhluk yang paling sempurna di bumi, namun spiritual skill tidaklah selalu bisa stabil, terkadang naik – turun atau timbul – tenggelam.  Ketidakstabilan tersebut dipicu dari faktor internal maupun eksternal pustakawan.

Spiritual skill merupakan sebuah potensi diri. Potensi diri tersebut bisa saja terganggu sehingga spiritual skill menjadi labil. Achmad dkk yang berprofesi sebagai pustakawan di Institut Teknologi Sepuluh November (2012) menyebutkan ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun contoh faktor internal yang timbul dari diri pustakawan sendiri adalah penakut; pemalu; dan pemalas. Sedangkan faktor eksternal yang berasal dari luar diri pustakawan adalah kegagalan aktivitas  yang pernah dialami; menerima informasi yang negatif; dan terjadi komunikasi yang negatif. Dari dua faktor diatas, faktor eksternal berpengaruh sangat besar dalam kehidupan pustakawan sebagai manusia.

Seorang tokoh editor jurnal spiritual dan agama, Biberman (2007), menambahkan bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi spiritual skill dikarenakan begitu cepat perubahan di lingkungan sekitar tempat bekerja ataupun komunitasnya. Perubahan tersebut bersifat kompleks sehingga dikhawatirkan pustakawan mengalami gangguan dalam kehidupan spiritual mereka. Gangguan kepada spiritual skill muncul dikarenakan pustakawan memiliki rasa ketidaknyamanan yang tinggi dan aspek-aspek gangguan lainnya. Sehingga gangguan-gangguan tersebut membuat ketidakstabilan spiritual skill yang dimiliki pustakawan dan terjadilah ketidakseimbangan antara spiritual skill, hard skill & soft skill.

Leitma (2016), memberikan alternatif. Tokoh psikologi ini mampu mengidentifikasi tipe kepribadian spiritual seseorang. Identifikasi juga memberikan praktik spiritual yang bisa dan yang tepat untuk menciptakan atau menumbuhkan atau sekedar meningkatkan spiritual skill yang mulai kendor atau hilang karena mengalami gangguan atau hambatan. Dalam kajian ini, penulis memaparkan konsep uji tes tipe kepribadian spiritual yang dipakai oleh Leitma. Uji tes tersebut bisa mengidentifikasi tipe kepribadian dan memberikan praktik spiritual bagi peserta yang diuji.

METODE

Penelitian ini merupakan studi literatur yakni pengkajian tentang kepribadian dan spiritual skill dari berbagai literatur. Menurut Badriah metode tersebut dipakai untuk mendapatkan teori – teori yang relevan (2006). Hal ini diharapkan akan menghasilkan sebuah konsep tentang alternatif untuk mengetahui tipe kepribadian dan memberikan contoh praktik spiritual pada masing-masing tipe kepribadian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sobur (2003) mengumpamakan definisi kepribadian bagaikan memahami tenaga listrik. Secara samar-samar bisa mengetahui artinya, namun apabila hendak memaparkan seluruh maknanya, seolah kehilangan akal. Allport (1971) pada buku Personality dalam Sobur (2003) telah mendaftarkan tidak kurang dari lima puluh definisi yang berbeda, dan sejak itu jumlahnya semakin bertambah. Maka dari itu penulis memaparkan definisi kepribadian yang berkaitan dengan kajian ini.

Dalam bahasa populer, definisi kepribadian berarti watak seseorang individu yang menjadikan identitas bagi dirinya. Cattel (1965) dalam Sobur (2003) mendefinisikan kepribadian adalah apa yang menentukan perilaku dalam situasi yang ditetapkan dan dalam kesadaran jiwa yang ditetapkan. Hal senada diungkapkan Koentjaraningrat (1980) dalam Sobur (2003) bahwa kepribadian adalah susunan unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia. Adam dalam bukunya The Anatomy of Personality dalam Sobur (2003) mendefiniskan secara singkat kepribadian adalah “saya”. Maka dapat disimpulkan bahwa definisi kepribadian, dalam hal ini pustakawan, adalah pernyataan-pernyataan yang mewakili individu pustakawan dan dapat mempengaruhi perilaku dan tingkah laku dalam situasi yang dihadapi oleh pustakawan itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan bila kepribadian bisa mempengaruhi perilaku maka kepribadian juga bisa mempengaruhi spiritual pustakawan.

Sobur (2003) menjelaskan pada dasarnya, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda satu sama lain. Begitu juga dengan Leitma (2016) mengatakan kepribadian adalah siapa Anda, yang memiliki keunikan dalam mengekspresikan diri kepada orang lain. Hal serupa disimpulkan Allport dalam Sobur (2003) bahwa kepribadian itu corak unik dari setiap individu yang berpengaruh terhadap lingkungan. Dari pemaparan tokoh-tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat keberagaman kepribadian antara individu satu dengan yang lain, begitu pula dengan pustakawan.

Goldberd (1981) tokoh psikologi dalam Basir (2015), manusia dibedakan oleh kepribadian dan karakter yang dimiliki oleh setiap individu. Kepribadian memiliki ciri-ciri tersendiri sehingga muncullah perbedaan tipe kepribadian. Teori Tipe Kepribadian tersebut pertama kali dikenalkan oleh Lewis R Goldberd. Teori tersebut bernama Big Five Personality. Tokoh-tokoh psikologi lain menyetujui bahwa perbedaan kepribadian dikelompokkan menjadi lima yang disingkat OCEAN (Openness, Conscientiousness, Extroversion, Agreeableness, dan Neuroticism). Teori Big Five ini diadopsi oleh Leitma (2016) untuk mengetahui tipe kepribadian spiritual seperti yang penulis paparkan dalam kajian ini.

Setiap individu memiliki tipe kepribadian, begitu juga bagi pustakawan. Dalam kajian ini, penulis memaparkan Teori Tipe Kepribadian Spiritual. Leitma (2016) mengatakan bahwa tipe kepribadian erat kaitannya dengan spiritual. Leitma menambahkan bahwa spiritual bisa mengubah perilaku seseorang. Sebenarnya setiap orang memiliki kebiasaan spiritual yang bisa dicocokkan dengan kepribadian masing-masing orang tersebut. Mengambil dari teori kepribadian yang dipakai dalam tes psikologi, Leitma memberikan versi singkat dari test menentukan tipe kepribadian seseorang melalui pendekatan keseharian seseorang tersebut lalu dihubungkan kedalam spiritual.

Penulis melihat cara dari Leitma (2016) ini bisa diterapkan untuk mengidentifikasi tipe kepribadian spiritual pustakawan. Setelah mengetahui tipe kepribadian pustakawan, kita bisa mengetahui bagaimana cara meningkatkan spiritual skill pustakawan dengan melihat daftar praktik spiritual yang dipaparkan oleh Leitma dalam tulisannya berjudul “What is Your Spiritual Personal Type?: How to Match Your Spiritual Habits to Your Personality”.

Mengingat citra pelayanan perpustakaan ada ditangan pustakawan, baik atau buruk, menarik atau tidak, memuaskan atau membosankan. Oleh karena itu, apabila praktik spiritual tersebut telah diterapkan dan berhasil meningkatkan spiritual skill pustakawan yang telah menurun. Maka diharapkan bisa menjaga stabilnya kualitas pelayanan perpustakaan kepada pemustaka net generation.

 

Tipe Kepribadian Spiritual

Leitma (2016) membuat praktik spiritual berdasarkan studi kepribadian yang biasa dilakukan oleh psikolog dalam menentukan tipe kepribadian. Salah satu cara yang paling populer untuk mengukur kepribadian adalah The Five Factor Personality (Lima Faktor Teori Kepribadian), atau “Big Five”. Lima faktor kepribadian utama tersebut meliputi (1) Extroversion: kecenderungan untuk berinteraksi dengan dunia luar, orangnya energik, dan suka bersosial; (2) Agreeableness: kecenderungan untuk bersikap ramah, penuh kasih sayang, dan kooperatif dalam bertindak; (3) Conscientiousness: kecenderungan untuk menunjukkan disiplin, ingin terlihat sempurna atau perfeksionis, kepribadian yang tegar, ambisius dan bisa menjaga diri, (4) Neuroticism: kecenderungan untuk mengalami kekhawatiran, kecemasan, pesimis, dan emosi yang tidak menyenangkan; dan (5) Openness: kecenderungan untuk menikmati keberagaman, suka hal baru, suka mengasah permainan otak, suka tantangan mental dan fisik, dan imajinatif.

Perhatikan tabel 1 dibawah ini. Leitma (2016) memberikan kepada kita cara mudah untuk menentukan tipe kepribadian. Cara menilainya cukup mudah sehingga bisa mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian terkuat Anda. Pertama-tama, lingkarilah pada setiap pernyataan berikut. Kemudian jumlahkanlah poin di setiap tipe kepribadian. Hasil penjumlahan tertinggi adalah tipe kepribadian yang dominan untuk Anda.

Keterangan: angka 1 untuk nilai bukan diri Anda (tidak pernah / bukan), angka 2 untuk nilai sedikit diri Anda (jarang-jarang), angka 3 untuk nilai cukup menyerupai diri Anda (biasanya), sedangkan angka 4 untuk diri Anda sesungguhnya (selalu / pasti).

Tabel 1. Uji Test Tipe Kepribadian Teori Big Five

No Pernyataan Tidak pernah terjadi Jarang terjadi Biasanya terjadi Selalu / Pasti Terjadi TO

TAL

  EXTROVERSION          

= ……

1 Orang – orang mengatakan bahwa saya bisa mencairkan suasana 1 2 3 4  
2 Saya menikmati berbicara di depan umum / banyak orang 1 2 3 4
3 Saya merasa nyaman bila berkumpul bersama orang-orang 1 2 3 4
4 Saya suka menyewakan (mencari keuntungan) dari barang kepunyaan saya 1 2 3 4
5 Saya menikmati memulai pembicaraan dengan orang asing 1 2 3 4
6 Saya suka banyak bercerita, bukan pendiam 1 2 3 4
7 Saya suka mencari topik pembicaraan yang berbeda dari kebanyakan orang 1 2 3 4
8 Saya suka melakukan sesuatu yang menarik perhatian orang lain kepada saya 1 2 3 4
  AGREEABLENESS          

= ……

9 Ketika saya melihat ada yang butuh bantuan, saya akan segera membantunya 1 2 3 4  
10 Saya adalah pribadi yang menarik diantara orang sekitar 1 2 3 4
11 Saya adalah pribadi yang menghindari menghina orang lain 1 2 3 4
12 Saya merasa mudah untuk bersimpati dengan perasaan orang lain 1 2 3 4
13 Saya tertarik untuk menyelesaikan masalah orang lain 1 2 3 4
14 Orang – orang memberitahu saya bahwa saya memiliki hati yang lembut 1 2 3 4
15 Saya biasanya meluangkan waktu untuk orang lain 1 2 3 4
16 Saya membuat orang lain merasa lebih nyaman 1 2 3 4
  CONSCIENTIOUSNESS          

= ……

17 Saya adalah orang yang biasanya menyiapkan apapun sebelum bertindak 1 2 3 4  
18 Saya suka menaruh barang kembali ke tempat semulanya 1 2 3 4
19 Saya memperhatikan hal – hal detail / rinci 1 2 3 4
20 Saya tidak suka membuat hal-hal menjadi kacau 1 2 3 4
21 Saya selalu segera mengerjakan pekerjaan yang diberikan 1 2 3 4
22 Saya suka merencanakan kegiatan sebelum kegiatan dilaksanakan 1 2 3 4
23 Saya suka mengikuti jadwal yang telah disusun 1 2 3 4
24 Saya suka menuntut menambah pekerjaan dalam bekerja 1 2 3 4
  NEUROTICISM          

= ……

25 Saya merasa stress 1 2 3 4  
26 Saya merasa sulit berelaksasi 1 2 3 4
27 Saya merasa kawatir tentang sesuatu hal 1 2 3 4
28 Saya merasa bingung 1 2 3 4
29 Saya merasa mudah terganggu 1 2 3 4
30 Saya mudah menjadi marah 1 2 3 4
31 Saya memiliki mood yang cepat berubah 1 2 3 4
32 Orang-orang biasanya mengganggu saya 1 2 3 4
  OPENNESS          

= ……

33 Saya memiliki banyak pembendaharaan kosa kata 1 2 3 4  
34 Saya suka ide-ide unik dan pemikiran yang abstrak 1 2 3 4
35 Saya memiliki imajinasi yang kuat 1 2 3 4
36 Saya tertarik dalam ide-ide diluar nyata   2 3 4
37 Orang-orang memberitahu saya bahwa saya memiliki ide yang cemerlang 1 2 3 4
38 Saya biasanya menggunakan kata-kata yang sukar dipahami orang lain 1 2 3 4
39 Saya menghabiskan waktu untuk merefleksikan diri memikirkan sesuatu 1 2 3 4
40 Orang-orang memandang saya adalah seorang yang kreatif 1 2 3 4

 

Setelah mengetahui tipe kepribadian Anda. Leitma (2016) membuatkan daftar praktik spiritual terbaik yang direkomendasikan kepada pemilik masing-masing tipe kepribadian. Setelah mengetahui praktik dan mengapiklasikannya, diharapkan bisa mengantisipasi ketidakstabilan spiritual skill dan meningkatkan spiritual skill. Berikut penjelasan praktik spiritual yang direkomendasikan kepada masing-masing tipe kepribadian:

1. Extroversion Spirituality

Kepuasan Anda terletak pada totalitas yang tinggi melalui hubungan emosional ketika meningkatkan spiritualitas. Anda cenderung memiliki minat yang kuat dalam kepemimpinan, sehingga Anda mahir memberi nasehat dan mengarahkan hal baik ke pikiran orang lain.

Bagi Anda yang memiliki tipe Extroversion Spirituality, maka praktik spiritual terbaik yang Anda lakukan dalam rangka meningkatkan spiritual skill adalah (1) menjadi pemimpin di lingkungan Agama Anda seperti takmir masjid atau pengurus gereja, atau pemimpin kelompok lebih kecil, (2) melakukan diskusi atau berbagi ilmu agama kepada anggota keluarga, tetangga atau pun rekan kerja, (3) memberikan ceramah atau berkhotbah, (4) carilah posisi kepemimpinan dalam organisasi masyarakat, seperti komite sekolah atau pengurus Rukun Tetangga (RT), (5) mengatur kegiatan sosial masyarakat untuk panti jompo, mantan pejuang veteran dan penyandang cacat, dan (6) mempertahankan diri sebagai ustadz, imam masjid atau pendeta.

2. Agreeableness Spirituality

Jiwa Spiritualitas Anda meningkat ketika Anda melayani kebutuhan orang lain. Anda mencapai kepuasan pribadi dengan terlibat dalam kegiatan yang memungkinkan Anda untuk menggunakan kepribadian Anda untuk menghibur orang lain. Berkomunikasi dengan orang lain melalui belas kasih dan rasa hormat membuat Anda merasa berharga dan spiritual terhubung ke dunia di sekitar Anda.

Bagi Anda yang memiliki tipe Agreeableness Spirituality, maka praktik spiritual terbaik yang Anda lakukan dalam rangka meningkatkan spiritual skill adalah (1) menjadi relawan di sebuah sekolah, masjid, gereja, rumah sakit, panti jompo, atau organisasi amal, (2) mengembangkan keterampilan untuk menjadi konselor spiritual atau mentor spiritual seperti jasa konsultasi menjadi keluarga yang religius, (3) membantu orang-orang dengan melayani dan menyiapkan makanan di tunawisma penampungan atau dapur umum, (4) menjadi tutor, pelatih, atau mengajar keterampilan baru kepada anak-anak dan orang dewasa, (5) manfaatkan keramahan Anda dengan mengunjungi orang-orang yang kesepian dan orang yang membutuhkan bantuan.

3. Conscientious Spirituality

Anda terlihat sebagai orang yang ahli atau diandalkan dalam agama. Carilah program spiritualitas yang sangat disengaja dan rutin untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan. Menjaga rutinitas beribadah adalah tipe Anda dan nyaman untuk Anda. Anda memiliki kecenderungan untuk terobsesi tentang hal detail tentang spiritual atau keagamaan.

Bagi Anda yang memiliki tipe Conscientious Spirituality, maka praktik spiritual terbaik yang Anda lakukan dalam rangka meningkatkan spiritual skill adalah (1) menjaga jadwal rutin beribadah dan membaca bacaan inspiratif, (2) Luangkanlah waktu untuk intropeksi diri dalam rangka mengenali dan memperbaiki diri sendiri untuk menjadi lebih baik, (3) belajar secara mandiri untuk mengubah diri sendiri tentang keilmuan spiritual dan fokus dengan membaca buku baru setiap bulan, (4) totalitaslah dalam kegiatan rohani favorit Anda, (5) buatlah tahap demi tahap yang ingin Anda capai dalam spiritualitas.

4. Neuroticism Spirituality

Anda memiliki kecenderungan yang kuat dalam diri Anda untuk mengalami kecemasan spiritual. Anda secara alami merasa khawatir dan memikirkan tentang kegagalan hidup dan kekecewaan, dan Anda lebih mungkin untuk terobsesi tentang masa depan Anda dan kesehatan pribadi. Perjalanan spiritual Anda lebih menantang, karena tidak mudah bagi Anda untuk secara konsisten memiliki sukacita, iman, dan harapan. Namun dengan menjaga diri yang tepat dan diberi perhatian, maka kehidupan rohani / spiritual Anda bisa positif dan bermakna.

Bagi Anda yang memiliki tipe Neuroticism Spirituality, maka praktik spiritual terbaik yang Anda lakukan dalam rangka meningkatkan spiritual skill adalah (1) dengan menolak untuk terlibat dalam membicarakan hal-hal negatif. Belajar untuk mengenali hal positif pada diri sendiri, seperti memulai dengan kata-kata yang menggembirakan atau positif, (2) buatlah jurnal harian atau catatan harian setiap pengalaman positif yang Anda lakukan atau temui. Tinjaulah atau lihat kembali daftar rencana Anda setiap hari sebelum tidur, (3) belajarlah untuk sabar menghadapi kesedihan, kesusahan, dan kekecewaan pribadi, (4) memprioritaskan tujuan pribadi yang akan memiliki dampak terbesar pada perjalanan spiritual Anda, (5) Buatlah suasana yang positif, menyenangkan dan semangat spiritual di lingkungan Anda, (6) memahami bahwa pertumbuhan rohani antara satu orang dengan yang lain adalah berbeda tingkat kemampuan belajarnya, (7) menjadilah jujur, dan konsisten dalam berperilaku positif yang sesuai pemahaman Anda.

5. Openness Spirituality

Spiritual Anda dapat ditemukan dengan menjelajahi alam dan acara budaya. Anda memiliki rasa ingin tahu dan kegembiraan dan suka merenungkan karya seni, musik, dan pemandangan alam. Anda menikmati terlibat dalam refleksi dan doa. Anda sensitif terhadap lingkungan alam dan membutuhkan waktu yang lama dari orang lain untuk meningkatkan (menumbuhkan) spiritualitas Anda. Kemajuan spiritual terjadi ketika Anda menemukan tujuan yang lebih tinggi untuk hidup Anda.

Bagi Anda yang memiliki tipe Openness Spirituality, maka praktik spiritual terbaik yang Anda lakukan dalam rangka meningkatkan spiritual skill adalah (1) Terlibat dalam refleksi diri dan beribadah, (2) mencurahkan waktu untuk menenangkan diri dan membaca bacaan yang menyenangkan, (3) Buatlah catatan perasaan positif dan pengalaman Anda, (4) rencanakan kegiatan berkala harian atau mingguan untuk meditasi, jalan-jalan dan menelusuri alam, (5) luangkan waktu untuk merenungkan seni dan landscape alam, atau mendengarkan musik, (6) menghadiri kegiatan spiritualitas yang menyenangkan dan pertunjukan seni.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pelayanan perpustakaan akan berhasil ketika ada kesungguhan menjaga keseimbangan dan meningkatkan kapasitas diri hard skill, soft skill dan terutama spiritual skill. Jika pustakawan bertekad menjaga stabilnya kualitas pelayanan kepada pemustaka net generation, maka pustakawan dapat mencapainya.

Profesionalitas pustakawan yang dapat dilihat kasat mata adalah kualitas hard skill. Pustakawan semakin professional apabila ditambah dengan ditingkatkannya soft skill dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka net generation. Pustakawan akan lebih mendekati sempurna apabila dilengkapi dengan kemampuan lain yang tidak kalah penting yaitu spiritual skill atau kemampuan spiritual.

Pustakawan dikhawatirkan mengalami ketidakstabilan spiritual skill karena adanya faktor yang bisa melemahkan kemampuan spiritual. Maka perlu adanya antisipasi ketidakstabilan spiritual skill. Salah satu alternatif mengantisipasi kondisi tersebut melalui mengetahui tipe kepribadian dengan uji tes tipe kepribadian. Alternatif tersebut juga merekomendasikan praktik spiritual kepada masing-masing tipe kepribadian. Sehingga pustakawan diharapkan bisa menerapkan praktik spiritual untuk mengantisipasi ketidakstabilan spiritual skill pustakawan sesuai tipe kepribadian masing-masing.

Saran

Uji tes tipe kepribadian ini bisa dipraktekkan secara mandiri bagi pustakawan maupun untuk lembaga perpustakaan yang ingin menerapkan rekomendasi praktik spiritual dalam rangka mengantisipasi ketidakstabilan spiritual skill guna menjaga kualitas pelayanan perpustakaan kepada pemustaka net generation.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad; Sutedjo, Mansur; Surono; Suprayitno, Edy. (2012). Layanan Cinta: Perwujudan Layanan Prima ++ Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto

Badriah. (2006). Study Kepustakaan Menyusun Kerangka Teoritis, Hipotesis Penelitian dan Jenis Penelitian. Retrieved from http://www.koperti4.or.id’pages/data%202006/kelembagaan/studi_studikepustakaan_DR%5B1%5D_DWI.Doc

Basir, Muhammad Ahkam. (2015). Big Five Personality. Retreived from https://ahkammuhammad.wordpress.com/psikologi/teori/big-five-personality/

Biberman, Jerry. (2007). Life and Work as a Calling. Interbeing; Fall 2007; 1, 1; Research Library pg. 21, from ProQuest Education Journals.

Breeding, Marshall. (2006). Trends in Library Automation: Meeting the Challenges of a New Generation of Library Users. Paparan Materi sebagai Director for Innovative Technology and Research, Vanderbilt University at OCLC Office if Research Distinguised Seminar Series, 29 Nov 2006.

Byerly, Greg. (2010). Generations by Generations, Part 1. School Library Monthly; Vol XXVI, no 7; March 2010, from ProQuest Education Journals.

Haryanti, Trini. (2013). Layanan Perpustakaan Terintegrasi Berbasis Pemustaka. Makalah dipresentasikan pada Seminar FPPTI Jawa Tengah di Tegal pada tanggal 22-23 Februari 2013.

Hodge, David R. (2004). Spirituality and People with Mental Illness: Developing Spiritual Competency in Assessment and Intervention. Families in Society; Jan-Mar 2004; 85, 1; Research Library pg. 36, from ProQuest Education Journals.

Leitma, Grant. (2016). What is Your Spiritual Type?: How to Match Your Spiritual Habits to Your Personality. Vibrant Life; May/Jun 2016; 32, 3; Research Library pg. 34, from ProQuest Education Journals.

Nugroho, Dicki Agus. (2015). Survey Pustakawan Perpustakaan Dalam Menghadapi Net Generation. Dilakukan pada Desember 2015 pada Program Perpustakaan IPA di Jakarta.

Pawar, Badrinarayan Shankar. (2013). Leadership Spiritual Behaviours Toward Subordinates: An Empirical Examination of The Effects of a Leader’s Individual Spiritual and Organizational Spirituality. J Bus Ethics (2014) 122:439-452, DOI 10.1007/s10551-013-1772-5. Publish online Springer Science+Business Media Dordrecht 2013, 11 June 2013, from ProQuest Education Journals.

Rotmianto, Mohamad. (2015). Konsep Hard Skill, Soft Skill, dan Spiritual Skill Pustakawan Menghadapi Era Library 3.0. Jurnal Pustakaloka, Vol 7, no 1, Tahun 2015.

Sari, Yunita. (2010). Penerapan Soft Skill pada Profesi Pustakawan di Era Teknologi Informasi. Makalah Tugas Mata Kuliah Etika Profesi, Departemen Studi Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, Medan. Retrieved from http://dokumen.tips/download/link/penerapan-soft-skill-pada-profesi-pustakawan

Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia

PROFIL SINGKAT

Dicki Agus Nugroho, S.Hum. Seorang pembelajar melalui menulis tentang perpustakaan. Laki-laki kelahiran Sukoharjo 5 Agustus 1991 ini merangkum kesehariannya di blog ula3.wordpress.co.id. Tercatat sebagai Alumni S1 Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro di Semarang. Telah selesai menyelesaikan amanah sebagai Ketua Umum organisasi nasional HMPII (Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi se-Indonesia) pada tahun 2011 – 2013. Pernah aktif menghasilkan berbagai karya sebagai konsultan perpustakaan di YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia) pada tahun 2013 – 2016. Sekarang berkarir sebagai Pustakawan di UPT Perpustakaan Universitas Tidar di Magelang, Jawa Tengah.

Download versi pdf, klik disini PROSIDING SEMINAR NASIONAL

atau klik disini Dicki Agus Nugroho – Makalah Kajian Seminar ISI Solo – Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan

2 thoughts on “Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s