Lomba Artikel Ilmiah: Perpustakaan Menyelamatkan Generasi Langgas dari Hoax.

 

dies ke 66 perpustakaan ugm dicki agus nugroho

Berswafoto bersama dengan pemenang dan juri, dari kiri, saya, Bapak Sutomo (suami ibu Susanti), Ibu Susanti, Ibu Sri Rumani, dan Bapak Ida. [Tidak Lengkap]. Foto dengan Ibu Endang ada di paling bawah artikel.

 

Dalam rangka Dies ke-66 Perpustakaan UGM 2017.

Judul artikel: Perpustakaan Menyelamatkan Generasi Langgas dari Hoax.

Pendahuluan

Penetrasi internet di Indonesia boleh dikatakan sangat luar biasa. Pasalnya, berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016, lebih dari separuh total penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Tepatnya 132,7 juta orang terkoneksi internet dari total 256,2 juta penduduk. Hal penting dari hasil survei itu adalah generasi langgas membuktikan diri dengan mendominasi pengguna internet sebesar 42% (APJII, 2016). Generasi langgas diperkenalkan sebagai generasi bebas oleh Sebastian (2016). Kata langgas diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti bebas atau tidak terikat kepada sesuatu / kepada seseorang. Pengelompokan generasi langgas ini diperuntukkan kepada seseorang yang lahir sekitar tahun 1980-2000 dengan kata lain berusia 16-36 tahun.

Generasi langgas sering pula disebut generasi digital native atau generasi milenia bagi seseorang yang lahir sekitar 1980an sampai sekarang (Martin Zimerman, 2012). Senada dengan Martin Zimerman, Marc Prensky (2001), seorang tokoh pendidikan, memperkenalkan bahwa generasi yang lahir pada era digital menganggap teknologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan dengan “menggenggam” dan “memainkan” ponsel pintar (smart phone). Ponsel dengan segenap fitur dan fasilitas yang tersedia, membuat mereka berada dalam “dunia baru” yaitu dunia digital.

 

Hadirnya dunia digital membuat aktifitas generasi langgas dimanjakan oleh kecepatan informasi dan pertemanan melalui media sosial yang bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Sampai-sampai muncul slogan: Internet dalam genggaman. Inilah benar-benar suatu masa yang telah membuktikan terjadinya peluberan informasi bahkan banjir informasi melalui berbagai media. Keterhubungan generasi langgas dengan jejaring internet dalam menerima informasi telah melahirkan sejumlah peluang. Namun juga acap kali diikuti ancaman yang kerap tidak disadari.

 

Riuhnya terjangan informasi dari berbagai media telah membuktikan timbulnya kegaduhan bagi generasi langgas. Sehingga muncullah gegar budaya di masyarakat yang dengan mudah percaya kepada informasi. Mereka lantas menyebar informasi tanpa melakukan verifikasi kebenaran. Hal itu diperparah bahwa sebagian besar konten di internet tidak pernah diklik (dibuka), langsung disebar, judul berita pun cenderung dianggap kesimpulan. Jikalau dibuka, hanya dibaca sepintas dan tidak sampai satu menit (Kompas, 2017a). Tidak bisa dipungkiri lagi, kini fenomena hoax melanda generasi langgas yang disinyalir merupakan dampak negatif seiring maraknya aktifitas penggunaan internet. Hoax atau berita bohong / informasi palsu bahkan menimbulkan kerugian materiil dan non materiil.

 

Masifnya peredaran hoax melalui berbagai media hendaknya menyadarkan peran perpustakaan dan pustakawan di dalamnya untuk menciptakan dan memberikan informasi yang sehat. Saat ini, masyarakat generasi langgas yang sebagian menjadi pemustaka di perpustakaan membutuhkan rujukan informasi yang tepercaya dan perlunya bimbingan untuk menciptakan budaya kritis. Pada sisi itulah, perpustakaan dapat menjawabnya melalui suguhan informasi terverifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Pendidikan literasi media dan inovasi kreatif dalam menyajikan informasi yang falid atau shahih dirasa sangat relevan bagi perpustakaan untuk menciptakan kesadaran berbudaya literasi sebagai bekal menangkal hoax.

 

 

HOAX

Informasi yang tidak falid atau berita bohong yang lebih akrab disebut hoax mengkhawatirkan bagi generasi langgas. Padahal, sebentar lagi mereka bakal mendominasi populasi di Indonesia pada 2020. Sehingga terjadilah bonus demografi yang akan segera dipanen bangsa ini. Bonus demografi hanya terjadi sekali bagi suatu Negara. Dampaknya bisa untung atau bisa juga buntung. Pasalnya, fenomena hoax melalui media dalam jaringan kian merebak.

 

Data dari pemerintah dan kalangan peduli hoax membeberkan berbagai macam aduan hoax dari masyarakat pengguna internet. Terbaru, angka cukup besar ditampilkan pada laman daring Turnbackhoax.id. Setidaknya 1.656 aduan hoax, fitnah, dan hasutan telah diterima selama 1 Januari 2017 hingga 2 Februari 2017. Sementara itu, Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI menerima lonjakan drastis laporan tindak pidana terkait hoax dari masyarakat pada 2016. Jumlahnya mencapai 4.426 laporan yang mayoritas menyangkut masalah penghinaan di dunia maya (Kompas, 2017b).

 

Salah satu media arus utama memberitakan satu dari laporan hoax yang berdampak dahsyat bagi masyarakat. Seperti yang dialami salah satu warga Blok Bojong, Desa Curug, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Dia adalah Suparman, bapak dua anak ini masih ingat betul kejadian pada Selasa 10 Januari 2017. Kejadian itu menorehkan trauma mendalam baginya. Waktu itu, selasa siang, tiba-tiba terdengar suara kaca jendela rumahnya yang pecah terkena lemparan batu dan balok. Ternyata di luar rumah, sekitar 2.000 warga desa tetangga, dari Desa Ilir, Desa Parean Girang dan Desa Bulak, menyerang Blok Bojong. Suparman tidak bisa berbuat apapun, hanya bisa segera mencari tempat persembunyian untuk berlindung bersama istri, dan kedua anaknya. Dari tempat persembunyian, mereka mendengar sejumlah orang masuk rumah dan membanting televisi hingga pecah. Tidak hanya itu, persediaan gabah kering giling jatah tiga bulan juga diobrak-abrik (Kompas, 2017c).

 

Suparman tidak hanya menderita kerugian materiil, akan tetapi juga mengalami trauma. Kejadian serupa juga terjadi seluruh warga Blok Bojong. Tercatat 149 rumah juga rusak parah pada hari itu. Peristiwa kelam itu dipicu beredarnya kabar di facebook dari akun milik KK yang menyebutkan Ato Suwarto dan Wahyu Maulana, warga Desa Ilir, meninggal dikeroyok warga Desa Curug. Padahal, Ato dan Wahyu meninggal karena kecelakaan tunggal yang terjadi pada Sabtu petang 7 Januari 2017. Kabar itu lalu memicu kebencian dari sejumlah pemilik akun media sosial dan membakar amarah bagi sebagian pembacanya (Kompas, 2017c).

 

Peristiwa ini tentunya menjadi potret buramnya fenomena hoax yang disertai ujaran kebencian.  Tahun lalu, fenomena hoax ternyata juga terjadi di daerah lain. Di Jakarta, beredarnya ajakan untuk menarik uang besar-besaran di bank karena akan ada kerusuhan pada Jumat 25 November 2016. Di tempat terpisah, kabar informasi palsu di Batam, Kepulauan Riau, semakin parah. Bermula beredar berita dan foto palsu seolah terjadi kerusuhan dan pembakaran di Kota Batam. Hoax itu pun berdampak turunnya wisatawan dari Singapura ke Batam. Sedangkan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, dampak hoax mengakibatkan massa merusak sejumlah rumah ibadah umat Buddha di Tanjung Balai pada Jumat 29 Juli 2016 karena terprovokasi kabar bohong di media sosial (Kompas, 2017d).

 

Fenomena hoax yang terjadi di atas ditengarai akibat perilaku pengguna internet dalam menerima informasi bohong (hoax) dari media sosial. Sehingga munculah berbagai hasil kajian dan pengamatan yang memaparkan alasan munculnya fenomena hoax. Sosiolog UI, Ida Ruwaida dalam Berindra (2016), menjelaskan bahwa generasi langgas yang menjadi bagian dari pengguna internet terbagi menjadi dua kelompok yaitu haters (pembenci) dan lovers (pencinta). Mereka cenderung memakai satu kacamata: positif atau negatif. Lovers akan terus mencari pembenaran, sedangkan Haters sulit diberi penjelasan karena kehilangan kemampuan memilah. Perilaku tersebut terjadi karena mereka lebih suka memahami dengan cara melihat saja daripada mencari tahu lebih lanjut.

 

Iwan Setyawan, seorang pemerhati media sosial, mengungkapkan generasi langgas cenderung gampang percaya. Mereka seolah beradu cepat dalam mem-posting, menyebarkan informasi atau konten di media sosial tanpa mengkroscek kebenaran konten itu. Hingga akhirnya banyak terjadi hoax. Alhasil, terjadilah konflik sosial di dunia nyata, akibat rendahnya pemahaman generasi langgas dalam mencerna informasi (Sidauruk, 2017).

 

Sependapat dengan Iwan Setyawan, Inisiator komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho (Kompas, 2017b), mengatakan hoax berkembang pesat karena rendahnya literasi media. Terlebih, masyarakat Indonesia bukan masyarakat pembaca, melainkan bangsa ngerumpi. Tanpa memahami secara utuh, informasi langsung disebar, tanpa dicek kebenarannya. Judul berita pun cenderung dianggap kesimpulan karena informasi di dalamnya hanya dibaca sepintas, bahkan kadang tidak dibuka atau diklik tautannya sama sekali. Yose Rizal, Direktur Politica Wave, memperkuat alasan di atas dengan menyatakan bahwa dampak dari rendahnya literasi yakni generasi langgas menganggap segala kabar dari media, bahkan termasuk yang abal-abal, sebagai fakta yang sudah terverifikasi alias falid, padahal bukan (Kompas, 2017a).

 

Selain itu, alasan hoax mudah menyebar karena umumnya sistem pembelian pulsa telepon seluler untuk koneksi data menggunakan sistem prabayar. Sebagian generasi langgas pun enggan memverifikasi ulang dengan membuka link situs informasi yang diterima karena takut pulsanya habis. Ditambah lagi, ada semacam kebanggan. Jika bisa menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi (Kompas, 2017e).

 

Menurut Taufik Pasiak, ahli neurosains, dalam Wahyudi (2016), ketika proses penyebaran informasi, kondisi generasi langgas bisa mengalami masyarakat kompulsif karena cenderung menyebarkan informasi yang berulang-ulang. Aktifitas semacam ini hanya untuk meredakan kecemasan semata. Apabila semakin menunda menyebarkan informasi maka akan kian parah kecemasannya. Bahaya besar pun bisa terjadi dimana seseorang atau sekelompok yang menganggap daripada menganalisis atau mengecek kebenaran informasi, mereka cenderung memilih menyebarkan informasi, lalu berharap ada orang lain atau teman yang mengecek dan menyebarkan lagi, begitu berulang lagi dan lagi. Maka lambat laun akan bisa memicu kecemasan massal, kepanikan, sikap apatis, hingga tidak peka terhadap informasi yang benar.

 

Kondisi rendahnya literasi seperti ini sejalan dengan data pemeringkatan literasi Indonesia. Dua tahun lalu, Kajian Perpustakaan Nasional menyimpulkan minat baca masyarakat Indonesia termasuk kategori rendah. Kajian minat baca yang dilaksanakan di 12 Provinsi dan 28 Kabupaten / Kota di Indonesia pada tahun 2015 tersebut hanya menorehkan angka 25,1 (Sugihandari, 2017).  Sedangkan hasil studi yang dilaksanakan Central Conecticut State University, Amerika Serikat, yang diumumkan pada Maret 2016, telah menempatkan Indonesia pada peringkat dua terbawah dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya (Kompas, 2017f). Bahkan dalam survei Organisation for Economic Cooperation for International Assessment of Adult Competencies, kemampuan literasi Indonesia yang diwakili Jakarta menunjukkan peringkat terendah dari 34 negara yang diteliti. Kemampuan orang desawa (25-65 tahun) di Jakarta dengan pendidikan minimal sekolah menengah atas (SMA), lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat Eropa berpendidikan sekolah dasar (SD) (Kompas, 2017g).

 

Kondisi di atas selaras dengan waktu yang dimanfaatkan orang Indonesia untuk membaca yakni hanya 2-4 jam sehari atau lebih rendah dari standard UNESCO (4-6 jam sehari). Sedangkan bagi masyarakat Negara maju membuktikan telah menghabiskan 6-8 jam sehari untuk membaca (Sugihandari, 2017). Ini menggambarkan lemahnya fondasi masyarakat untuk berpikir logis dan kritis. Fenomena hoax pun diyakini akan terus membesar dan menarik banyak perhatian yang bisa memabukkan bagi khalayak generasi langgas yang belum siap.

 

PERPUSTAKAAN BERPERAN?

Baru-baru ini penyanyi Ari Lasso menciptakan sebuah lagu baru berjudul “Dunia Maya”. Lagu tersebut mengisahkan fenomena media sosial di dunia maya yang tengah marak di Indonesia. Setidaknya, cerita tersebut semakin mengingatkan tentang pengaruh derasnya arus informasi yang melanda generasi langgas.

 

Aktivitas generasi langgas dan penyebaran informasi bohong (hoax) merupakan salah satu dinamika yang ada di masyarakat. Baik direncanakan atau tidak, aktivitas keduanya akan tumbuh lebih banyak lagi di sekitar lingkungan perpustakaan. Dimana masyarakat dan perpustakaan memiliki keterkaitan yang strategis.

 

Tantangan di tengah kondisi saat ini memang membutuhkan kerja cerdas bagi perpustakaan. Manuel Castell (2007) dalam Sugihandari (2017), menekankan bahwa pertarungan utama di generasi langgas adalah memenangi pikiran mereka. Disinilah, perpustakaan memiliki peran dan menyediakan ruang bagi generasi langgas.

 

Perpustakaan terlebih dahulu harus memperjelas fungsinya sebagai penyaji informasi dan wahana pendidikan (UU 43:2007 pasal 3). Apalagi kedua fungsi tersebut harus diselerasakan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) (pasal 19). Artinya sama halnya dengan fenomena penyebaran informasi palsu (hoax) yang merebak melalui penggunaan TIK juga. Sehingga perpustakaan diharapkan menjadi wahana pembelajaran masyarakat melalui pemanfaatan TIK untuk menciptakan pembudayaan dan pemberdayaan guna mencapai tujuan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Perpustakaan juga merupakan salah satu garda penggerak literasi media dan gerbang informasi dengan pustakawan sebagai pengelola informasinya. Oleh karena itu pustakawan harus dapat menangkap dan melihat informasi serta pengetahuan yang ada di masyarakat. Menurut Brewer, masyarakat dan perpustakaan memiliki keterkaitan yang strategis. Masyarakat merupakan bagian dari kepustakawanan dan pada fenomena ini, peran pustakawan dinilai sangat vital. Maka, pustakawan memiliki peran sebagai penjaga gawang konten media, menciptakan budaya kritis pemustaka, dan memberikan kontribusi nyata (Brewer, 2015 dalam Nisa Adelia, 2015).

 

Perpustakaan tidak mungkin bisa membendung arus media sosial, tetapi bisa membangun budaya yang kritis. Budaya ini kemudian yang membentuk sikap humanis menghargai kemanusiaan. Budaya kritis bisa diciptakan dengan memberikan literasi informasi media kepada generasi langgas (Berindra, 2016). Menciptakan budaya kritis bisa diterapkan dengan mudah dan sederhana. Pustakawan menekankan kepada generasi langgas untuk tidak asal mengunyah informasi yang menghampirinya. Walaupun informasi memang mudah diperoleh, akan tetapi pada waktu yang sama juga memiliki potensi negatif yaitu adanya informasi bohong (hoax). Kemudian pustakawan membiasakan kepada generasi langgas untuk tetap kritis dan skeptis menghadapi serangan informasi. Sehingga mereka akan mencari perimbangan informasi dengan cara melakukan cek dan cek ulang. Alhasil, muncullah sikap untuk menyaring informasi bagi diri sendiri. Generasi langgas juga dapat berperan aktif mencegah hoax. Jika informasi yang diperoleh belum tentu benar, bukan tentang kebaikan, dan bahkan tidak berguna bagi orang lain, maka tidak perlu untuk disebarkan (Safitri, 2017).

 

Generasi langgas dikenal dengan stigma lembek, manja, daya survive kurang. Padahal mereka memiliki potensi yang besar sehingga harus ada cara yang berbeda untuk memperlakukan mereka. Alternatif kreatif yang layak dicoba dalam rangka memberikan literasi informasi adalah dengan menggandeng komunitas-komunitas anti hoax. Aktifitas mereka tidak hanya gencar di dunia nyata, namun juga merambah dunia digital seperti yang digandrungi generasi langgas dengan menciptakan aplikasi dan aktif di media sosial. Sebut saja, Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) dengan aplikasi Turnbackhoax.id.; Indonesian Hoaxes Community (IHC); dan Forum Anti Fitnah dan Hoax Indonesia (FAFHI) dengan funpage facebooknya; serta blog Gudanghoax.com (Kompas, 2017h). Komunitas-komunitas ini bekerja sukarela dan memiliki anggota yang cukup banyak. Aktivitas yang dilakukan komunitas ini cukup relevan untuk memberikan contoh nyata peran masyarakat bisa menangkal dampak hoax.

 

Menghadapi penyebaran hoax, perpustakaan dan komunitas anti hoax rupanya perlu tatap muka dan berdialog bersama generasi langgas. Sehingga bisa bertukar gagasan memilah dan menilai isi informasi yang dapat dipakai untuk berpikir secara kritis. Perpustakaan juga dapat melakukan penguatan budaya literasi dengan menyediakan wadah untuk membentuk komunitas anti hoax atau duta anti hoax. Kita boleh berharap gerakan besar berawal dari sekelompok kecil yang turut andil memberikan contoh nyata kepada khalayak umum untuk bersama memerangi hoax. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan perpustakaan, lantas siapa lagi? Tak ayal, upaya menyelamatkan generasi langgas layak disematkan kepada perpustakaan.

 

Daftar Pustaka

Adelia, Nisa. (2015). Teknologi Informasi dan Komunitas Online. Ujian Akhir Semester Filsafat Ilmu Pengetahuan. Pascasarjana Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia.

APJII. (2016). Infografis Survey Penetrasi & Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2016. Diakses 10 Nov 2016, dari https://apjii.or.id/survei.

Berindra, Susie & Setyorini, Ida. (Kompas, Kamis 29 Des 2016 hlm 6). Dilema Selebritas Virtual.

Kompas. (2017a). Senin 6 Feb 2017 hlm 1. “Hoax” Terus Tebar Benih Konflik.

Kompas. (2017b). Selasa 7 Feb 2017 hlm 1. Literasi Rendah Ladang “Hoax”.

Kompas. (2017c). Senin 6 Feb 2017 hlm 1, Berita Bohong Itu Menorehkan Trauma.

Kompas. (2017d). Senin 6 Feb 2017 hlm 1, Sejumlah Kasus Akibat “Hoax”.

Kompas. (2017e). Selasa 3 Jan 2017 hlm 2. Membantah “Hoax”, Menyelamatkan Bangsa.

Kompas. (2017f). Selasa 7 Feb 2017 hlm 1. Literasi Indonesia.

Kompas. (2017g). Rabu 8 Feb 2017 hlm 3. Ayo, Dukung Gerakan bersama Anti-“Hoax”.

Kompas. (2017h). Selasa 7 Feb 2017 hlm 1. Semangat Bersama Perangi “Hoax”.

Prensky, Marc. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants Part 1. On the horizon, 9(5), 1-6. Diakses tanggal 17 Feb 2017, dari: http://www.academia.edu/download/31169414/Digital_Natives_-_Digital_Immigrants.pdf.

  1. 2007. Undang-Undang tentang Perpustakaan Nomor 43.

Safitri, Dyah. (2017). Pustakawan dan Masyarakat Melek Digital. Surat Kabar Kompas, Jumat 10 Feb 2017 hlm 7.

Sebastian, Yoris. (2016). Generasi Langgas. Jakarta. Penerbit TransMedia Pustaka.

Sidauruk, Esra Dopita M. (Majalah Intisari, Jan 2017 hlm 227). Prediksi Media Sosial 2017, Percakapan Media Sosial Semakin Riuh.

Sugihandari. (2017). Menggugah Pers Hadapi Badai Informasi. Surat Kabar Kompas, Senin 6 Feb 2017 hlm 5.

Wahyudi, M Zaid. (2016). Hasrat Menjadi yang Tercepat. Surat Kabar Kompas, Minggu 20 Nov 2016 hlm 5.

Zimerman, M. (2012). Digital natives, searching behavior and the library. New Library World, 113(3), 174-201. doi:http://dx.doi.org/10.1108/03074801211218552.

Full download, klik di sini: pdf

dies ke 66 perpustakaan ugm dicki agus nugroho a

Berswafoto bersama Ibu Endang Fatmawati, Juara ke 2

 

Data Diri: 

Pemilik nama akun Instagram “PUSTAKAWAN Dicki Agus Nugroho” adalah anak muda yang tertarik mengkaji Generasi Digital Native di Perpustakaan. Laki-laki kelahiran Sukoharjo 5 Agustus 1991 ini terobsesi menulis yang merangkum capaian diri di blog ula3.wordpress.com.

Tercatat sebagai Alumni S1 Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro di Semarang (Sept 2009 – Juli 2013). Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Fakultas (2011). Menasbihkan diri sebagai pemenang Film Dokumenter Terbaik pada Lomba Temu Ilmiah Mahasiswa Nasional Mahasiswa Perpustakaan Se-Indonesia (2012) di Universitas Padjadjaran Bandung. Dua tahun berturut Lolos Hibah Penelitian Mahasiswa Fakultas (2011-2012). Sukses menyelesaikan amanah sebagai Ketua Umum organisasi nasional HMPII (Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi se-Indonesia) pada tahun 2011 – 2013.emilik nama akun Instagram “PUSTAKAWAN Dicki Agus Nugroho” adalah anak muda yang tertarik mengkaji Generasi Digital Native di Perpustakaan. Laki-laki kelahiran Sukoharjo 5 Agustus 1991 ini terobsesi menulis yang merangkum capaian diri di blog ula3.wordpress.com.

Turut dalam Aksi Happening Art bersama berbagai media cetak, televisi, dan online pada setiap akhir pekan adalah kegiatan rutin di Sukoharjo, Surakarta (Solo), Surabaya, dan Jakarta (2013-2016).  Berhasil aktif menghasilkan berbagai karya sebagai Konsultan perpustakaan di YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia) pada tahun 2013 – 2016.

Sekarang berkarir sebagai Pustakawan di UPT Perpustakaan Universitas Tidar di Magelang, Jawa Tengah. Alamat: Jl. Kapten Suparman 39 Potrobangsan, Kel Tuguran, Kec Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah 56116. WA +6285725104352, email: dickiuntidar@gmail.com

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Artikel Dies ke-66 Perpustakaan UGM.

JUARA 1: Ibu Susanti, progdi Ilmu Perpustakaan UPI, (ALTERNATIF PEMULIHAN VIRUS LOGICAL FALLACIES DARI INFORMASI HOAX DI MEDIA SOSIAL MELALUI BIBLIOTERAPI : Best Practice Pada Komunitas Biblioterapi Indonesia.)

JUARA 2: Ibu Endang Fatmawati, Perpustakaan FEB UNDIP, (Media literasi kompeten strategi cerdas pustakawan untuk mewujudkan informasi sehat.)

JUARA 3A: Ibu Ari Zuntriana, UIN Maulana Malik Ibrahim, (Literasi informasi di era pasca kebenaran membangun daya kritis publik melalui institusi perpustakaan.)

JUARA 3B: Ibu Sri Rumani, Perpustakaan Fisipol UGM, (Pustakawan di era digital dan informasi sehat).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s