Hari Buku Nasional 2016: Pelayanan Perpustakaan harus ‘User Oriented’ berdasarkan Fungsi Perpustakaan

Selamat Hari Buku Nasional 2016

Terbaru, hasil studi yang dilaksanakan Central Conecticut State University, Amerika Serikat, yang diumumkan pada Maret 2016, telah menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya.

Budaya literasi pada era sekarang ini tidak bisa dipungkiri lagi telah membludak banyaknya informasi. Inilah benar-benar suatu masa yang di dalamnya terjadi apa yang seperti dinubuatkan Marshall Mc Luhan sekitar setengah abad lalu, yang disebut sebagai information spill-over (peluberan informasi), bahkan banjir informasi. Lihat saja, google sebagai mesin pencari telah membuktikan kepada kita akan banjir informasi kepada masyarakat.

Kehadiran perpustakaan dituntut menyediakan referensi yang falid dan bukan informasi yang menyesatkan. Di internet, banyak sekali informasi yang tersaji, namun banyak pula yang tidak shahih atau benar. Maka perlu kecerdasan memilih dan mensintesiskan informasi yang sahih oleh perpustakaan. Sehingga walau internet menyediakan banyak jawaban kepada masyarakat, namun perpustakaan bisa memberikan satu jawaban yang benar kepada masyarakat.

Tepat hari ini, 17 Mei, diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Tercatat dalam sejarah, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 17 Mei 1980, dibentuklah Perpustakaan Nasional “walau masih dibawah” Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kala itu.

Hari Buku Nasional dicetuskan oleh beberapa komunitas pecinta buku dan juga pemerintah yang bertujuan meningkatkan budaya membaca. Diharapkan dengan dicetuskannya Hari Buku Nasional ini dapat terbentuk masyarakat berbudaya berliterasi. Namun apa kabar budaya literasi di Indonesia?

Di negara-negara yang maju budaya literasinya, popularitas perpustakaan berbanding lurus dengan tingkat kunjungan perpustakaan pada sebuah bangsa. Perpustakaan menjadi salah satu indikator dalam penilaian Negara atau kota literasi oleh Central Conecticut State University. Namun ternyata masih ada banyak penyebab minimnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan Menilik salah satu nasehat bijak dari Albert Einstein, tokoh dunia, mengungkapkan bahwa salah satu yang wajib harus Anda ketahui adalah alamat perpustakaan. Ungkapan itu mungkin tidak berlaku bagi masyarakat beberapa daerah di Indonesia sehingga terjadi penurunan kunjungan di berbagai perpustakaaan.

Contohnya, Perpustakaan Daerah Kuningan di Jakarta pada tahun 2014 mengalami penurunan kunjungan yaitu menjadi rata-rata setiap hari tidak lebih dari 70 kunjungan saja. Lebih tragis terjadi di Solo, jumlah kunjungan turun drastis. Dari tahun 2013 terdapat kunjungan 23.000 pengunjung menjadi hanya 3.000 kunjungan pada tahun 2014. Sedangkan pada 2015, tertanggal bulan Agustus hanya mencapai 300 kunjungan setiap bulannya, jauh dari harapan.

Mari menengok di luar Jawa, Perpustakaan Daerah Mataram misalnya, setiap hari hanya ada 21 kunjungan saja pada akhir tahun 2013 dan jumlahnya semakin menurun hingga akhir 2014. Pada April tahun lalu, semakin parah terjadi Perpustakaan Daerah Banjarmasin, pada hari biasa hanya dikunjungi maksimal 30 orang, per bulan, bukan per hari. Paling mentok 50 kunjungan adalah saat musim skripsi.

Melihat pemaparan realita mengejutkan diatas, tentu muncul pertanyaan. Mengapa itu terjadi? Padahal data kunjungan masyarakat ke perpustakaan merupakan salah satu tolak ukur dari kemajuan peradaban budaya literasi masyarakat itu sendiri.

SOLUSI

Menurut UU 43 / 2007 tentang Perpustakaan, jenis-jenis perpustakaan dikategorikan menjadi lima yaitu Perpustakaan Umum, Perpustakaan Khusus, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan Nasional.

Masing-masing jenis perpustakaan memiliki tujuan yang sama, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui budaya gemar membaca dengan pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perpustakaan berlomba-lomba meningkatkan tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Tindakan awal untuk menanggulangi minimnya kunjungan perpustakaan adalah bukan lagi perpustakaan hanya menyediakan buku saja melainkan menyediakan “sajian“ hasil kemas ulang informasi dari dalam buku supaya tersampaikan kepada masyarakat yang kemudian menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjadi bagian dari budaya literasi.

SESUAIKAN FUNGSI

Satu hal yang harus dipahami dari tiga tugas pokok perpustakaan yaitu pelayanan. Dalam pasal 14 mengenai pelayanan perpustakaan disebutkan bahwa pelayanan berorientasi bagi kepentingan masyarakat. Sehingga dalam memberikan pelayanan atau “sajian” hasil kemas ulang informasi selayaknya menyesuaikan dengan siapa yang diberi layanan.

Melihat dari fungsi perpustakaan yaitu fungsi pendidikan, fungsi penelitian, fungsi rekreasi, fungsi informasi dan fungsi dokumentasi. Masing-masing perpustakaan seharusnya memiliki kecenderungan cara pelayanan menyajikan kemas ulang informasi yang dominan dari satu atau lebih fungsi perpustakaan. Kecenderungan tersebut menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

Setelah mengetahui dominasi fungsi dari masing-masing perpustakaan, maka kekayaan informasi yang berada di dalam buku akan mudah tersaji menjadi sebuah pengetahuan sebagai harta karun terpendam yang harus digali oleh perpustakaan itu sendiri. Untuk menemukan harta karun tersebut, maka perlu dikemas ulang dalam sajian yang bermanfaat, menghibur, sahih atau benar dan nyaman.

Bila penulis boleh mengatakan sajian tersebut layaknya dalam sebuah jamuan makan, yang pertama kali dilihat adalah bagaimana bentuk dan tampilan sajian makanan tersebut. Bila tampilan dan bentuknya menarik, apalagi mampu menciptakan gairah tersendiri bagi penikmatnya maka bukan tidak mungkin akan muncul daya tarik tersendiri lalu disantaplah sajian tersebut sampai habis. Belum lagi citarasa sajian yang tidak hanya lezat melainkan memiliki kandungan yang bermanfaat bagi penikmatnya.

Sajian yang bermanfaat, menghibur, sahih atau benar dan nyaman, akan membuat masyarakat senang dalam menikmati sajian yang disediakan oleh perpustakaan. Bila masyarakat menikmati “sajian”, bukan tidak mungkin masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengetahuan yang terdapat dalam buku. Sehingga masyarakat semakin terbiasa dan lambat laun menjadi suatu budaya berliterasi. Dengan demikian, kelak, data terpuruknya budaya literasi di Indonesia bisa dipatahkan.

Instagram Penulis: PUSTAKAWAN Dicki Agus Nugroho

[Malu-Malu], Berfoto bareng dengan Mantan Kepala Perpustakaan Nasional, Ibu Dra Sri Sularsih M.Si, Jakarta, kamis 12 Mei 2016.

Dicki: Alo ibu, saya dicki, alumni Undip, perpustakaan. Salam kenal.
Ibu: lhoh Undip? Saya juga Undip lho, saya sospol.
Dicki: waaaa kita satu almamater.

{bersambung}

Begitulah cuplikan percakapan saya bersama kepala perpustakaan nasional yang menjabat sejak 2010.

Foto o/ KSNALS

View on Path

Aktivitas Pustakawan sebagai Denyut Nadi Perpustakaan

dicki agus nugroho pelatihan perpustakaan

Aktivitas Pustakawan sebagai Denyut Nadi Perpustakaan.
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan. Dan sumber ilmu pengetahuan itu antara lain berupa buku. Sedangkan perpustakaan, adalah sebuah sarana bagi mereka yang ingin banyak membaca buku dengan cara mudah dan murah meriah.

Elemen penting dalam sebuah perpustakaan itu bukanlah ada pada keberadaan buku itu sendiri, melainkan adanya habitat (kebiasaan) masyarakat membaca.

Menurut organisasi internasional yang fokus pada pendidikan Sekolah Dasar melalui perpustakaan, Room To Read, bermula dari perpustakaanlah kebiasaan membaca siswa (sebagai bagian dari masyarakat sekolah) itu dimulai.

Baca lebih lanjut

Talkshow SBO TV: Peran Ibu Menumbuhkan Minat Baca Anak

sbo tv dicki agus nugroho

Data dari UNESCO pada tahun 2011 menyatakan bahwa indeks baca di Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari seribu penduduk hanya terdapat satu orang yang gemar membaca.

Penelitian tersebut dibenarkan oleh Manajer Program YPPI 2016, Dicki Agus Nugroho, bahwa jumlah penduduk yang sangat besar bisa menjadi alasan tersendiri bagi negara yang memiliki geografis unik yaitu Indonesia.

Namun praktek YPPI di wilayah terdepan dan terluar seperti di Kabupaten Kepulauan Anambas dan Desa Musi Banyuasin Palembang, menggambarkan minat baca anak-anak yang sangat tinggi. Ketika diberitahu ada buku, mereka berebut buku dan sangat antusias. “Layaknya kita yang terkejut dan senang bila dikasih sebongkah emas”, jelas Dicki.

Setelah minat baca telah ditingkatkan, perlu diketahui keterampilan membaca dan pemahaman membaca.

Early Grade Reading Assesment (EGRA) dari USAID pada tahun 2014 menjelaskan pemahaman membaca terendah di Indonesia terdapat wilayah Maluku, Nusa Tenggara dan Papua sebesar 46 persen. Sedangkan di wilayah Jawa dan Bali mencakup 78 persen, Sumatera 69 persen dan Kalimantan-Sulawesi sebesar 60 persen.

Bagaimana di kota Surabaya?

Baca lebih lanjut

Inilah Metode Menilai Negara dan Kota Berliterasi

Inilah Metode Menilai Negara dan Kota Berliterasi.

Selamat! Negara Indonesia bergelar berliterasi nomor 2 dari bawah.

Ini berita Indonesia menempati nomor 60 dari 61 negara yang diteliti: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html

Lantas Anda bisa juga berikan komentat penelitian tersebut disini: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/15/comments-other-issues-indonesia-second-least-literate-61-nations.html

Lalu siapa saja 10 negara terbaik? Baca beritanya disini: http://tribune.com.pk/story/1064913/10-most-literate-nations-in-the-world/

Bagaimana sih metode yang digunakan? Baca lebih lanjut

Ini Tips Menerapkan Revolusi Mental melalui Membaca

Ini Tips Menerapkan Revolusi Mental melalui Membaca.

Maret 2016 sempat muncul isu pembangunan Perpustakaan Megah oleh DPR. Ada yang pro dan kontra. Lepas dari pro dan kontra itu. Saya menemukan semangat juang membentuk mental membaca. Apa saja itu?

Bapak Pimpinan DPR, Bapak Ade Komarudin, mengatakan, “perpustakaan bagus untuk negara.”

Beliau menyadari akan tidak tersedianya perpustakaan yang memadai. Dan menyadari bahwa negara tetangga yang maju karena kondisi perpustakaannya bagus dan memadai fasilitas dan koleksinya.

Ibu Yeni, Direktur Forum Indonesia bidang Transparansi, pada Artikel yang sama, mengungkapkan bahwa penting pembangunan perpustakaan di wilayah terdepan dan terluar negara Indonesia. Sehingga anak-anak didaerah terluar Indonesia bisa menikmati membaca buku.

Di berita selanjutnya, Bapak Muhidin M Dahlan, komunitas @radiobuku, malah menginginkan UU Buku.

Setali tiga uang, di Kota Surabaya, disaat bersamaan sedang diselenggarakan Seminar Nasional, dengan judul REVOLUSI MENTAL DENGAN MEMBACA Baca lebih lanjut

Makna Literasi: Berfikir Kritis

Makna Literasi: Berfikir Kritis.

Saya pernah mencari kata “literasi” di KBBI. Ternyata TIDAK ADA.

Apakah negara Indonesia tidak menerima kata “literasi”. Saya jd bingung menjelaskan definisinya. Apalagi memaknainya.

Definisi dan makna adalah berbeda.

Definisi ialah penjelasan tentang sebuah kata atau gambaran sesuatu, sedangkan makna ialah arti sesuatu bagi seseorang. (Agus Rusmana, xii).

Apabila hendak memaknai “literasi”, makna akan muncul dari seseorang yg pernah atau selalu bersentuhan dan berinteraksi dengan “literasi”.

Paulo Freire ( 1972), mengungkapkan bahwa literasi adalah suatu keterampilan komplek yg melekat pada diri seseorang, nantinya menjadi bagian pengambilan sikap dan keputusan dalam kehidupan sehari-harinya baik sosial, ekonomi dan politik. Baca lebih lanjut

Wedges , Batik dan Pustakawan

Foto: Raisa dan Shane Filan (Mantan Personel Wistlife) membuka konser mini Shane Filan di Hard Rock Cafe Jakarta. Shane begitu menarik perhatian dengan kemeja batiknya. Sedangkan Raisa dengan anggunnya menyanyi dan mampu menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.Batik dan pustakwan

Mari kita lirik si cantik Raisa dahulu, guys. Tampil dengan wedges nya, dia begitu cantik. (Maaf ya saya potong bagian bawahnya, hehe supaya anda lebih fokus pada pembahasan, bukan pada fotonya) [sesekali lihat boleh kok]. Dengan wedges pada sepatu akan memperbaiki penampilan dan juga menambah kepercayaan diri. Itu tidak dipungkiri lagi.

Penulis mengajak pembaca untuk mengingat pernah melihat pustakawan atau pegawai perpustakaan yang memakai wedges tidak? Ada yang pernah melihat memakai wedges dan ada juga yang tidak memakai nya atau hanya dengan sepatu trepes / flat (datar) saja.

Bayangkan seandainya pustakawan perpustakaan yang terutama bagian front line adalah pustakawan seperti Raisa atau Shane Filan (Shane tidak pakai wedges lho), tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi perpustakaan tersebut.

wedges bukan hal mutlak untuk mempercantik diri bagi seorang wanita, namun sebagai penunjang seorang wanita yang memakainya akan memiliki cara berjalan yang berbeda. Lebih anggun pastinya. “Siapa sih yang tidak indah melihat seorang wanita berpenampilan dengan wedges, Guys?”.

Ena Vadaq seorang pebisnis dan sosialita Yogyakarta mengungkapkan bahwa salah satu property untuk tampil anggun, rapi, elegan dan feminin adalah dengan menggunakan high heels atau wedges (Jawapos 3 Okt 2013).

Bagi pustakawan perempuan, tidak salah mencoba untuk menunjang penampilannya dengan wedges tersebut. Terutama bagi yang berusia tergolong muda, akan sangat diharapkan berpenampilan cantik. Nha, bagi fresh graduate yang tidak pernah pakai high, bisa dicoba nih. Jangan hanya sewaktu menghadiri wisuda saja. Tidak salahnya mencoba berpenampilan rapi dan anggun dengan wedges.

Dalam materi “Carier Coaching” yang pernah penulis dan mungkin pembaca ikuti, sebagai seorang wanita pencari kerja akan diberi penjelasan bagaimana berpenampilan dan berjalan baik dalam menemui pewawancara maupun ketika bekerja kelak. Wedges menjadi pelengkap yang diharapkan pencari kerja memakainya. Pewawancara akan menilai pertama kali seseorang peserta wawancara melalui pandangan pertamanya yaitu penampilan peserta tersebut. maka dengan pustakawan berpenampilan menarik, pemustaka atau kolega akan lebih tertarik untuk melanjutkan percakapan sampai kebutuhan informasinya terpenuhi.

Banyak manfaat tentunya memakai wedges. Namun perlu mengantisipasi dampak negatif dari penggunaan wedges tersebut.

Namun sebelum masuk ke dampaknya, penulis mengajak untuk melirik si Shane Filan dulu. (Kasian kalau dianggurin, hehe).
Shane berpenampilan berkemeja batik ketika manggung di Indonesia. Inilah salah satu cara menarik perhatian publik atau penonton untuk tetap fokus memperhatikan penampilannya di panggung. Apalagi jadwal manggungnya bertepatan dengan hari Batik Nasional kita (2 Okt).

Penampilan Shane perlu dicontoh bagi pustakawan. Apa saja itu?

Pertama, berani berpenampilan berbeda namun tetap menarik. Menggunakan batik adalah hal yang berbeda bagi Shane. Bagi pustakawan harus mampu menemukan tampilan berbeda disetiap harinya agar pemustaka tidak bosan dan tertarik berinteraksi dengan pustakawan. Batik sudah menjadi makanan pokok harian bangsa kita. Pustakawan bisa menggunakan bermacam motif batik yang kaya jenisnya di Indonesia. Semakin banyak motif batik, semakin menarik tentunya. Apalagi setiap batik itu memiliki nama dan makna. Penulis yakin banyak pembaca yang tidak paham nama dan makna dari batik yang mereka pakai. Dengan mengenalnya, pustakawan dapat memerkan batik yang mereka pakai kepada sesama pustakawan dan tentunya kepada pemustaka.

Pustakawan akan mendapatkan ilmu pengetahuan baru dan tidak akan hilang namun malah bertambah. Kenapa? Karena pustakawan dituntut oleh penulis (maaf maksa, hehe) untuk pamer kepada Pemustaka bertujuan membagi ilmu tentang ke-batik-an kepada semua yang hadir di perpustakaan.

Dengan berbagi ilmu, akan semakin bertambah ilmunya, bukan berkurang ilmunya. Betul nggak, Guys?

Pemustaka akan merasa diperhatikan sebagai tamu di perpustakaan tersebut. Apalagi informasi nama dan makna batik itu ditampilkan di layar monitor yang ada di perpustakaan atau di tempel di mading.

Nha, setelah pustakawan mencoba ide pertama ini, mari lihat ide kedua yaitu ‘moment’ bahwa pustakawan harus jeli melihat moment. contohnya di Hari Batik Nasional (kemaren). Pustakawan wajib memakai batik adalah contohnya. Bagaimana dengan moment seperti hari satwa esok hari (jumat 4 Okt) ? Memakai pakaian hewan atau kostum hewan seperti Shaun the Ship. Kebetulan pertengahan bulan ini ada hari besar kurban. Bisa kan itu dimanfaatkan momentnya. Atau ketika timnas menang. Pustakawan memakai kaos atau kemeja timnas adalah ide kreatif selanjutnya, dan masih banyak lainnya. So, jangan sampai ketinggalan momentnya, Guys.

Setelah banyak kreatif, jangan lupa pesan yang disampaikan Shane pasca bubarnya westlife, Shane mengatakan “saya ingin bernyanyi selama mungkin”.

Nha pustakawan juga harus bernyanyi, bernyanyi menyuarakan literasi bagi masyarakat Indonesia. bernyanyi menghidupkan moment-moment untuk menarik perhatian masyarakat datang dan menggunakan layanan perpustakaan.

Begitu ide-ide yang bisa penulis tularkan dengan seadanya.

Kembali kepada dampak negatifnya high heels atau wedges bagi perempuan (Jawapos 3 Okt halm 17).

Kinerja menjadi lebih pelan karena tidak dianjurkan untuk berlari ketika memakai wedges. Menyeimbangakan dan menyelaraskan tubuh akan membuat dampak pada postur, betis, lutut, tendo achilles, tumit, tulang kaki dan hammertoes.

Pemakaian jangka panjang akan memunculkan nyeri parah di tungkai dan tulang belakang sehingga postur tubuh akan berubah. Otot betis yang sering kontraksi memendek dan kaku akan ada nyeri di kaki, lutut dan tulang belakang. Lutut akan terasa nyeri sehingga memicu radang sendi. Tendon achilles beresiko terjadi peregangan dan radang tendon. letak otot ini ada di bawah betis.

Terkadang terkilir pada pergelangan kaki sampai sampai patah tulang pun bisa menjadi ancaman. Pada tumit bisa terjadi benjolan di bagian belakang tumit karena iritasi berkepanjangan. Tulang kaki pada jari kaki akan memicu metatarsalgia yang ditandai dengan nyeri. Dan Hammertoes yaitu membuat posisi jari kaki yang mirip memeras saat mengenakan high heels akan berdampak jari keriting.

Selain dampak, penulis akan memberikan solusi untuk mengurangi dampak tersebut.

Usahakan tinggi maksimal adalah 2 inchi. Penggunaannya tidak lebih dari 40 jam dalam seminggu. Dokter Totok M dari alumnus FK Unair menyarakan untuk memilih ujung sepatu yang terbuka. Sering lakukan pemijatan rinfan pada betis dan telapak kaki pada saat jam istirahat.

Sedangkan menurut Ena, menggunakan plester khusus yang sewarna dengan kulit untuk ditempelkan di bagian tumit atau ujung luar kaki yang bersentuhan langsung dengan tepian sepatu adalah solusi pertama untuk sepatu high heels atau wedges yang masih baru. Selama perjalanan menuju peprustakaan atau kantor hendaklah memakai sandal atau sepatu trepes / flat (datar) terlebih dahulu. Mengoleskan minyak zaitun dan memijat mijat sewaktu sudah sampai rumah kembali adalah trik terakhir setelah kaki dicuci. Sesekali naikkan kaki ke atas, sementara posisi badan tiduran.

Sekian tulisan penulis yang semoga mampu memupuk ide kreatif lainnya.